Berwisata Sambil Berbelanja
Pembaca yang budiman, inilah kali kedua majalah Paradigma mengajak pembaca untuk menelusuri pesona wisata di sekitar kita. Pada edisi sebelumnya kita telah menelusuri jejak persinggahan laksamana Cheng Hoo di Semarang. Cheng Hoo, seorang panglima muslim dari Cina singgah di Semarang dan meninggalkan sebuah situs bangunan berupa klenteng Sam Poo Kong.
Kini kru Paradigma masih melanjutkan perjalanan di kota Atlas Semarang. Namun berbeda dengan kemarin, kali ini kami mengajak anda untuk melakukan wisata belanja di kota Semarang. Sambil berwisata kita juga bisa melampiaskan “nafsu” belanja kita. Karena perjalanan kita akan menelusuri lorong-lorong dari pasar terbesar di kota Semarang. Pasar Johar, sebagai pasar terbesar di kota Semarang, Johar menawarkan banyak pilihan barang belanjaan.
Pasar Johar terletak di sebelah timur laut dari alun-alun kota, Simpang Lima Semarang. Dari Simpang Lima pasar Johar dapat ditempuh dengan perjalanan mini bus atau dengan angkutan kota. Dengan ongkos Rp. 2500,- sampai Rp. 3000,- kita akan diantar sampai di depan pasar Johar yang berhadapan dengan Matahari Mall Johar. Sedang jika kita menggunakan kendaraan roda dua, kita dapat memilih alternatif jalan untuk mempersingkat waktu tempuh. Namun jika kita dari Kudus, Demak atau kota-kota arah timur Semarang, maka setelah kita sampai di depan Terminal Induk Terboyo kota Semarang, kita harus melanjutkan perjalanan sekitar 15 kilo meter lagi. Dan setelah sampai di depan hotel New Metro, kita ambil arah ke kiri kira-kira 50 meter sebelum akhirnya sampai di depan bangunan pasar berlantai dua, inilah pasar Johar.
Ada banyak pedagang yang menjajakan berbagai barang dagangan. Mulai barang kebutuhan sehari-hari, kebutuhan garmen, barang-barang seni sampai dengan kebutuhan buku-buku. Pedagangnya pun berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Semarang, Purwodadi, Demak, Kudus bahkan Jepara. Sehingga di pasah Johar ini akan menjadi satu komunitas pedagang yang sangat plural dan beragam.
Secara sepintas, akan tampak bahwa pasar ini kumuh. Bahkan tidak tampak di sebelah mana pintu masuknya. Namun setelah menyibak beberapa kios pedagang yang berada di pinggir jalan, maka anda akan menemukan lorong-lorong sempit di antara tumpukan barang dagangan yang dijajakan. Dalam keriuhan tersebut kita akan menemukan beberapa tangga yang cukup sempit karena barang dagangan, dan dengan itu kita akan sampai ke lantai dua.
Terus menyusuri lorong-lorong sempit belok ke kiri, ke kanan, ke kanan lagi, dan seterusnya. Sebuah rute yang tidak pasti, tergantung dari sebelah mana kita masuk. Namun dengan sedikit perjuangan, akhirnya kita menemukan sebuah blok dengan mayoritas dagangannya adalah buku-buku bekas. Memang di sana adalah tempat berkumpulnya pedagang buku-buku bekas. Sebagian besar dari mereka menjajakan buku-buku lama antara tahun 1970-an, bahkan ada juga buku berbahasa jawa terbitan tahun 1960-an. Meski demikian ada juga beberapa buku yang lebih baru.
Selain buku-buku terbitan, mereka juga menjajakan dagangan berupa naskah-naskah seperti paper, makalah, bahkan beberapa skripsi dari berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Menurut bu Nur salah seorang pedagang, menyatakan sebagian besar dagangannya adalah buku-buku umum. Dari sana kami memperoleh sebuah buku yang cukup lama. Buku terbitan tahun 1960-an dengan judul “Ekonomi Pertanian” dari Prof. Mubyarto dengan harga tidak lebih dari Rp.3500,-. “Ada banyak sekali pedagang di sini, mungkin mencapai 35 pedagang buku bekas”, tutur bu Nur ketika ditanya jumlah pedagang yang ada.
Di samping itu juga terdapat seorang pedagang yang sudah menjadi generasi kedua dalam menjajakan buku-buku bekas tersebut. Muhammad, telah menjadi bagian dari pedagang buku bekas sejak masih kecil. Hal ini karena orang tuanya adalah seorang pedagang buku bekas juga. “Pasar Johar sekarang sepi, tidak seperti dulu. Sewaktu saya kecil dulu di sini selalu penuh sesak ketika hari-hari libur. Kalau sekarang tidak bisa seperti dulu lagi”. Kenangnya, ketika Muhammad mengingat pengalaman, sewaktu ikut orang tuanya berdagang buku bekas. Dia juga mengaku berpenghasilan sekitar Rp. 20.000,- sampai Rp. 50.000,-. Atau bahkan lebih pada saat pasar ramai dan bayak dagangan yang terjual. Namun terkadang juga harus pulang tanpa membawa hasil.
Selain itu ada juga beberapa kios yang menawarkan buku-buku baru. Lebih jauh lagi di Semarang ada banyak pilihan tempat untuk mendapatkan buku-buku berkualitas. Di antaranya toko buku Gramedia, toko buku Gunung Agung, dan beberapa toko buku yang lain.
Itulah sedikit cerita yang diperoleh kru Paradigma dari perjalanannya di pasar Johar Semarang. Kami memutuskan pulang setelah bahu terasa sedikit lelah karena keberatan menyangga tas yang penuh dengan buku. Nah, untuk tahu nikmatnya jalan-jalan sambil belanja, datang aja ke pasar Johar Semarang. Selamat jalan-jalan… *-*
Wahyu Arzetha/Paradigma