Revitalisasi Identitas Budaya Bangsa
Krisis yang mendera sekujur tubuh bangsa ini menjadikan kebahagiaan warga semakin jauh dari dekapan. Mimpi untuk mewujudkan bangsa besar dan sejahtera terbentur berbagai problem dilematis. Bencana yang menggempur alam kesadaran bangsa ini, seakan tak pernah berhenti. Nestapa kehidupan warga negeri ini kembali menggumpal.
Berbagai krisis yang menampar wajah kusam negeri ini, bersumber dari “krisis identitas” kebangsaan. Warga negeri ini, lupa dengan jati diri yang menjadi identitas aslinya. Sebagian besar manusia Indonesia mengalami “amnesia sejarah” dan amnesia kebudayaan. Titah Bung Karno tentang Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah tak lagi diaktualisasikan dalam ruang nyata. Justru, yang menjadi dalih kebenaran bagi orienatasi masa depan negeri ini, hanyalah sejarah buta yang penuh dusta, kedengkian dan manipulasi sistematis. Bangsa ini mengalami penyakit mental terhadap jejak masa lalu. Semacam anakronisme akut.
Virus amnesia sejarah inilah yang menjadikan identitas asli bangsa ini tak pernah digapai. Catatan sejarah yang terbentang hanya menjadi komoditas politis bagi kelompok besar yang punya kepentingan jangka pendek. Nafsu sesaat inilah yang membelokkan peta historis bangsa ini, hingga memendam peradaban agung nusantara. Hilangnya sumber sejarah yang kongkret, menjadi krisis kebudayaan menjadi semakin menggila. Dalam panggung kehidupan, etika kemanusiaan semakin terpinggirkan, digantikan dengan nafsu instan dan kalkulasi kapitalis; terpancang pada untung-rugi.
Etika kehidupan bangsa timur yang penuh dengan spirit toleransi, gotong-royong, pluralisme dan nilai luhur lain menjadi bagian terakhir dari drama yang dipanggungkan. Dalam jejak keseharian, kehidupan bangsa ini semakin kering dan jauh dari kesejukan agama, moralitas dan deretan spirit kebudayaan. Noktah yang menghiasi bangsa ini didominasi oleh berita kriminal, kelaparan, bencana, penipuan dan kesengsaraan warga kecil. Sementara, dengan perut buncit, pejabat dan bandit negeri ini dengan seenaknya mengeruk “harta” warisan kekayaan alam. Korupsi menjadi hal lazim yang mendera kehidupan bangsa. Bahkan, susah dicari obat mujarabnya. Bangsa ini semakin menderita dan menghirup nafas tersengal. Selain dijarah warga asing, kekayaan negeri ini juga menjadi rebutan bangsa sendiri. Ironis.
Selain gelombang eksploitasi kekayaan alam yang luar biasa, krisis kebudayaan yang mengancam keutuhan negeri ini juga tak kalah mengerikan. Energi kreatif untuk sekedar mengenali dirinya sendiri seakan lenyap. Bangsa ini lupa dengan identitas dirinya yang sesungguhnya. Hingga, orientasi masa depan tak pernah jelas. Tertutup kabut gelap yang menutup jernihnya mata batin. Maka, tak salah apabila Emha Ainun Nadjib, menamsilkan bangsa ini sebagai burung yang tak punya sayap, dan tak berani terbang. Karena, sayap yang dianugerahkan Tuhan tak pernah dimiliki, hingga tak bisa digunakan terbang. Hingga, burung ini menjadi “ayam kampung” yang mengais remah sampah di sekitarnya. Tamsil gelisah inilah yang menjadi entry point mengenal identitas bangsa ini. Bahwa, sebenarnya manusia Indonesia, lainya gagak yang terbang dengan jubah kebesaran. Dan pada konteks inilah, zaman “kalasuba” yang dinantikan penyair WS. Rendra mendekati jejak kehidupan bangsa ini. Dan, kalasuba itu membutuhkan keteguhan, luapan keringat dan komitmen seluruh dimensi bangsa untuk bergerak dan mencipta perubahan. [Redaksi]