Bidikan Utama

Menegaskan Identitas Kebangsaan

Krisis identitas yang merasuk ke dalam jantung kehidupan bangsa ini semakin akut. Masa depan kehidupan warga Indonesia seakan tertutup kabut tebal. Jejak kebahagiaan yang diimpikan di negeri zamrud khatulistiwa ini hanya menjadi impian semu yang jauh dari kenyataan. Krisis multidimensi inilah yang menjadikan bangsa Indonesia semakin terpuruk dalam konstelasi sistem kehidupan internasional.

Awan hitam yang menutup sinar cerah kehidupan bangsa ini, diantaranya berasal dari krisis identitas dan gagap budaya warga negeri ini. Bangsa Indonesia hanya menjadi “kuli” yang patuh melakukan tugas apapun dari tuannya, bangsa asing. Watak inlander yang berasal dari mental kaum terjajah, menjadikan keberanian, mental kompetisi dan jati diri bangsa ini sulit diraba.

“Warga Indonesia dewasa ini telah kehilangan jati diri yang menjadi identitasnya. Bangsa kita tak mampu menjaga peradaban, mengolah kekayaan alam dan melalukan kerja kreatif untuk bangkit dari keterpurukan. Yang sekarang kita lakukan hanyalah menghamba pada kekuasaan bangsa asing. Semua potensi alam yang dimiliki Indonesia, kita biarkan diserbu oleh penguasa dana pengusaha negeri lain. Hal ini dikarenakan, kita tak mampu mengenali diri kita yang sesungguhnya. Warga Indonesia dipaksa menjadi manusia yang bukan dirinya. Sehingga kehilangan orientasi masa depan”, ujar sastrawan Emha Ainun Nadjib, ketika berbincang dengan PARADIGMA, beberapa waktu lalu.

Ketidakmampuan mengenal diri sesungguhnya inilah yang menjadikan warga negeri ini menjadi “manusia asing” di rumahnya sendiri. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, akan tetapi tak dapat menikmatinya. Paradoks kehidupan inilah yang menjadi sumber nestapa kehidupan. Sedangkan, budayawan Sujiwo Tedjo mengatakan bahwa, krisis identitas bangsa ini bersumber dari sikap angkuh yang dimiliki sebagian pejabat dan menjalar dalam lanskap kehidupan warga. “Krisis yang terjadi dalam tubuh bangsa ini dikarenakan adanya beberapa virus yang menggerogoti. Yakni arogansi, dengki dan munafik. Virus-virus inilah yang sekarang menyebar dan menjangkiti pikiran dari pemimpin dan bangsa negeri ini”, terang budayawan multitalenta ketika berdiskusi pada agenda Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) di Kudus, beberapa waktu lalu. Selain itu, Sujiwo menambahkan, warga negeri ini tak mau mengeksplorasi potensi diri yang dulu menjadi nilai lebih peradaban. “Bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengolah segala macam hal dari luar dirinya. Pada masa lalu, pendahulu kita dapat mengeksplorasi budaya asing menjadi milik kita, tetapi dengan nilai keindonesiaan yang kental. Seperti kesenian orkes menjadi keroncong, nasi kuning menjadi tumpeng dan berbagai macam pernik kebudayaan lainnya”. Kreatifitas inilah yang sekarang tumpul dan tak mampu lagi dieksplorasi oleh warga negeri ini.

Lorong Sejarah

Krisis kebudayaan merupakan efek samping dari berbagai macam krisis yang menggempur alam kesadaran bangsa ini. Hal inilah yang diungkapkan oleh penyair Rendra, bahwa krisis kepemimpinan, krisis hukum, krisis ekonomi, politik dan krisis lain menghantarkan pada tahapan krisis jati diri yang kita rasakan. “Pada zaman Airlangga, aparat keamanan memiliki kedaulatan penuh untuk mengusung keadilan bagi seluruh warga. Keadilan benar-benar menjadi titik penting dalam sistem pemerintahan. Lha, sekarang kan beda. Polisi, jaksa, dan instansi kehakiman menjadi aparat pemerintahan. Jadi ya, tidak bisa menciptakan ruang keadilan secara utuh. Karena, kalau mau nangkep koruptor saja, harus izin presiden. Ya, keadilan sulit menemukan ruang kemerdekaan”, ujar penyair Si Burung Merak ini, ketika memberikan ceramah budaya di Universitas Muria Kudus (UMK), 16 Maret 2008 lalu.

Penyair yang mendapatkan penghormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Maret 2008 lalu menuturkan tentang jurang perbedaan masa kerajaan Majapahit, Airlangga, Kediri, Tuban, Demak dan kerajaan lainnya dengan sistem politik pemerintahan Indonesia dewasa ini. Kegelisahan yang diungkapkan Rendra, senada dengan gemuruh keprihatinan Pramoedya Ananta Toer, dalam beberapa karyanya, semisal Arus Balik, Carita Calon Arang, Arok Dedes, Bumi Manusia dan beberapa novel lainnya.

Dalam Arus Balik (Hasta Mitra, 2001), Pramoedya yang menjadi maestro sastra negeri ini, menuturkan kemunduran peradaban Nusantara, karena lemahnya sistem pemerintahan, mundurnya eksistensi kerajaan dan krisis identitas. “Sekarang, makin lama makin sedikit kapal-kapal jawa yang berlayar ke utara, ke Atas Angin, ke Campa maupun Tiongkok. Arus kapal dari selatan makin tipis. Sebaliknya, arus dari utara semakin deras, membawa barang-barang baru, pikiran baru, juga ke Tuban”.

Selain itu, imbuh Pramoedya, “Kapal kita makin lama makin kecil seperti kerajaanya. Karena ya, kapal besar hanya dimiliki oleh kerajaan besar. Kapal kecil dan kerajaan kecil menyebabkan arus tidak bergerak ke utara, sebaliknya dari utara sekarang ke selatan, karena Atas Angin lebih unggul, membawa segala-galanya ke Jawa. Termasuk penghancuran, penindasan dan penipuan. Makin lama kapal-kapal kita makin kecil dan kemudian tidak mempunyai sama-sekali”. Keprihatinan inilah yang dilukiskan Pramoedya untuk membangkitkan kembali bangsa ini dari “amnesia sejarah” yang mendekap kebebasan pemikiran.

Mengenal Identitas

Krisis identitas dan mundurnya peradaban bangsa ini menjadikan warga Indonesia, menghempaskan nilai pluralisme, toleranisme dan berbagai sifat positif lainnya. Bahkan, bangsa ini seringkali terjebak pada provokasi dan impian semu yang senantiasa dikejar. “Kita selalu dikejar oleh nafsu dan provokasi. Bangsa ini seolah terbelenggu “dunia seakan-akan”. Ruang imajiner semu yang menjadi impian tak berujung”, ujar sastrawan Triyanto Triwikromo, ketika berbincang di kantor redaksi Suara Merdeka, Semarang, akhir Desember 2007 lalu.

Triyanto menuturkan, kabut gelap dan jebakan dunia seakan-akan inilah yang menjadikan bangsa ini lupa dengan agenda masa depan yang harus digapai. Ketika Reog Ponorogo diklaim sebagai kesenian asli Malaysia, warga negeri ini tegang dan melancurkan amarah. Padahal, belum tentu hal ini benar adanya. “Bangsa ini masih sensitif dengan symbol nasionalisme. Maka, tak heran ketegangan seringkali meletup. Justru, kita harus berterima kasih kepada Malaysia karena telah disentil dan membangunkan perhatian pemerintah pada pelestarian khazanah kebudayaan bangsa”, terang Triyanto.

Dari refleksi keadaan ini, bangsa Indonesia hendaknya menggali identitas asli dirinya. “Identitas itulah yang sekarang kita butuhkan. Agar bangsa ini dapat melindungi kekayaan alam dan kebudayaan dari serbuan tangan jahil bangsa asing. Identitas inilah yang dapat menjadi jurus kehidupan bangsa ini. Apabila burung kita dapat mematuk dan mencakar, apabila macan kita dapat mengaum dan menerkam” ujar Emha Ainun Nadjib. Ya, bangsa harus menggali identitas peradaban yang selama ini terpendam. Khazanah kebudayaan bangsa yang melimpah harus dilestarikan dengan nguri-nguri jejak kesenian [moenawir, munir].

Cak Nun :

“Orang Jawa Sebenarnya Hebat, Tapi Tak Mengenal Jati Dirinya ….”

Krisis kebudayaan dan identitas bangsa, turut mengundang keprihatinan Emha Ainun Nadjib. Sastrawan dan Budayawan yang akrab disapa Cak Nun ini menyoroti tentang jatidiri bangsa ini yang masih tertutup kabut tebal. Manusia Jawa, sebagai bagian dari bangsa, tak mampu mengenal identitas dirinya secara utuh. “Wong Jawa, sekarang bingung dengan keaslian dirinya. Sehingga orientasi hidupnya semakin tidak jelas. Ketika berhadapan dengan problem yang menggunung, Wong Jawa tak tahu apa yang harus diperbuat”, ujar pimpinan grup musik “Kiai Kanjeng” ini dengan semangat membara.

Wong Jawa, imbuh Cak Nun, sebenarnya memiliki kebudayaan agung dan peradaban terbesar di seluruh dunia. Hanya, karena tak mengetahui asal-usul dan jejak sejarah hidupnya, manusia Jawa terlena dan diam dalam kungkungan budaya asing yang membelenggu. “Manusia Jawa janganlah berkecil hati. Peradaban kita tak kalah dengan bangsa lain di dunia ini. Justru, Jawa berpotensi menjadi poros peradaban dunia. Buktinya, keragaman bahasa yang kita miliki, tak mampu dikejar oleh bangsa lain”, terang Cak Nun, ketika ditemui Crew PARADIGMA pada agenda “Aksi Selamatkan Gunung Kendeng”, di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, beberapa waktu yang lalu.

Budayawan yang pernah menjadi aktifis PSK (Pusat Studi Klub) Jogjakarta—dibawah asuhan sastrawan (Ustadz) Umbu Landu Paranggi—ini menerangkan tentang kekayaan bahasa Jawa yang menyejarah. Dalam bahasa Jawa, melimpahnya padanan kata menjadi kekayaan peradaban yang tak dapat ditandingi oleh bahasa Inggris, maupun Arab. Misalnya, kata “membawa”, dalam Inggris, ada bring (dan bentuk verb-nya), dalam Arab ada yahmil, sedangkan dalam Jawa, ada nggowo, nyekel, njunjung, nggendong, ngempit, mikul, nyekethem, nyengkerem, nyangking, dan sebagainya… “Dalam bahasa Jawa, kata itu membedakan letak dan sikap sampai intim serta detail. Kekayaan bahasa inilah yang menunjukan peradaban Jawa lebih panjang dari peradaban manapun”, terang Emha, yang melewatkan masa kecil di Jombang dan pesantren Gontor.

Maka dari itu, Cak Nun menghimbau kepada seluruh manusia Jawa, agar lekas bangkit dari mimpi panjang. Krisis identitas diri yang selama ini membenamkan kreatifitas dan keberanian wong Jawa, hendaknya segera diakhiri dengan mencari terobosan kebudayaan. “Orang Jawa sekarang ini seperti burung yang tak tahu bahwa ia punya sayap untuk terbang. Atau seperti macan yang tak pernah mengaum. Karena, kalau diandaikan seperti burung, tak tahu manfaat sayap dan malas untuk mengepakkan. Dan kalau ditamsilkan dengan harimau, taring tajamnya telah tumpul dan ogah mengaum. Maka dari itu, sudah saatnya manusia Jawa menggunakan jurus terbang dan jurus mengaum. Inilah seni menghadapi problem sejarah dan kemanusiaan, yang lenyap dari kehidupan manusia Jawa”, terang Cak Nun dengan nada menggeletar.

Spirit inilah yang seharusnya menjadi visi kehidupan manusia Jawa, untuk keluar dari jebakan kebudayaan asing. Kalau manusia Jawa dan bangsa Indonesia dapat mengenal dirinya sendiri, niscaya Indonesia akan menjadi negara makmur yang disegani dunia.

(Moenawir)

Sosiawan Leak

“Kita Hidup di Dunia Bogambola …”

Bogambola, bogambola ya…ya…ya…

Penyair Sosiawan Leak mengaku menangis ketika merasakan krisis kebudayaan yang terjadi pada bangsa ini. Tapi, tangis dan kritiknya tak mengucurkan air mata, melainkan meraung lewat puisi-puisinya yang menggelegar dan menghentak. Karut marut kehidupan bangsa Indonesia dilukiskan dalam sajaknya yang terkenal, “Dunia Bogambola”. Dalam derap sajaknya, Mas Leak, begitu panggilan akrab penyair yang tinggal di Solo, melukiskan kerusakan, krisis dan paradoks kehidupan yang menjelma menjadi bayang kehidupan manusia Indonesia. Dunia yang penuh konflik, dusta dan ricuh inilah yang ditamsilkan sebagai “Dunia Bogambola”.

Dunia Bogambola inilah, terang Sosiawan Leak, yang sekarang menjadi gelanggang kehidupan bangsa Indonesia. Di Dunia Bogambola, moralitas sudah disingkirkan dan digantikan dengan jubah kebesaran baru yang berasal dari kebudayaan asing. Simbol-simbol kebudayaan asing inilah yang menjadi berhala baru dan disembah setiap waktu oleh warga negeri ini tanpa menggunakan filter kebudayaan. Padahal, tak semua ajaran dan kebudayaan asing sesuai dengan konteks kehidupan manusia Indonesia.

Karut marut falsafah hidup warga Indonesia, menjangkit di semua elemen. “Sistem ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan bangsa ini semakin ricuh. Bahkan, konflik dan problem di dunia kesenian lebih kejam daripada kontestasi politik” ujar Sosiawan Leak, ketika berbincang dengan crew PARADIGMA beberapa waktu lalu.

Penyair yang sangat ekspresif ketika membaca sajak ini, menceritakan tentang dunia kesenian negeri ini dengan segala problematikanya. Dia menghimbau kepada generasi muda untuk bertekad kuat dan semangat berlipat ketika terjun di gelanggang kesenian. Hal inilah yang selama ini beliau rasakan. Dari pengamatan terhadap krisis, karut marut hidup dan pengalaman kehidupan, sajak-sajaknya mengalir deras dari imaji kreatif. “Banyak teman yang menganggap sajak-sajak yang saya tulis riuh dengan kegilaan. Akan tetapi, segila-gilanya saya, masih sangat waras ketika berdiskusi dan membaca puisi”, terang Sosiawan Leak setengah bercanda.

Ya, Mas Leak memang penyair cum orator dan deklamator (meski juga seringkali menjadi provokator).

Bogambola bogambola ya… ya… ya….

(Moenawir)

Tulis sebuah Komentar

Anda haruse Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.