Dia yang Menulis di Kesunyian ….
Nama : Ahmad Muhith
Nama pena : Maria Magdalena Boernomo
TTL : Kudus, 23 Oktober 1962
Alamat : Griya Pena, Prambatan Kidul Rt 02 RW IV, Kaliwungu Kudus
Pendidikan : Madrasah Diniyah
Hobby : membaca, menulis, memancing.
Awalnya hanya mengenal syair-syair lirih di madrasah, tetapi kini menjadi sastrawan produktif yang berkibar. Namanya dapat disejajarkan dengan Isbedi Stiawan ZS, Raudal Tanjung Banua, Kuswaidy Syafi’i, Zainal Arifin Thoha, S. Prasetyo Utomo dan sastawan lain yang mewarnai jagad kesusastraan negeri ini. Dia, Maria Magdalena Boernomo. Sastrawan yang memilih jalan sunyi, tak silau dengan gemerlap mercusuar kota. Dia lebih suka tinggal di desa yang tenang dan sunyi.
Di rumahnya yang asri, di tengah kampung Prambatan Kidul, Kaliwungu, Kudus, cerpen dan tulisan sastranya mengalir. Entah berapa jumlah pasti karya yang pernah ditulisnya, yang jelas hampir semua koran pernah memuat tulisannya. Karyanya terbentang dari cerpen, puisi, essai, cerpen anak, opini dan ulasan budaya. ”Sampai detik ini, ribuan karya sastra telah lahir dari tangan saya. Akan tetapi, saya tak pernah mempersoalkan tulisan saya direspon ataupun tidak. Yang penting saya tetap produktif, soal dimuat atau tidak itu urusan belakangan”.
Baginya, penulis yang baik adalah penulis yang produktif, yang gigih membaca dan meluangkan waktu untuk menulis. Beliau juga menegaskan bahwa fase menulis dan mempublikasikan adalah hal yang berbeda. Menulis sebagai proses kreatif, sementara publikasi adalah ruang eksistensi. ”Saya tak pernah merengek kepada redaktur untuk memuat tulisan saya. Yang penting, saya rajin menjelajah gagasan baru, menulisnya dan mengirimkan ke media”.
Menulis, baginya adalah kerja kreatif yang membutuhkan kegigihan ekstra. Yang paling penting, produktifitas dalam menghasilkan karya. ”Saya menganggap menulis sebagai proses belajar. Apabila tidak dimuat, saya tak akan sakit hati, sebab memang niat utama saya adalah terus belajar. Terkadang, bukan karya kita yang tak bagus, tetapi selera redaktur yang berbeda dengan alur pemikiran yang kita hasilkan”. Dia tak merasa sedih, ketika tulisannya tak lolos dari seleksi redaktur. ”Saya akan merombak tulisan dan mengirimkannya ke media lain. Dan, biasanya sebagian besar dimuat”, tandas sastrawan yang lahir pada 23 Oktober 1962 ini.
Sejarah masa kecil begitu membekas pada ingatannya. Proses kreatifnya sangat unik, bukan karena persinggungannya dengan derap kesunyian, tapi semangatnya untuk mempelajari sastra secara otodidak. Dia tak pernah bisa melupakan awal perjumpaannya dengan puisi yang berdengung di bangku diniyah. Syair yang menyisakan jejak di dadanya menjadi pelecut semangat mempelajari sastra. Perjumpaannya dengan buku dimulai sejak itu, dia sangat senang tenggalam dalam lautan kata, keranjingan membaca buku dan memahat ide yang singgah di kepala.
Energi Membaca
Baginya, membaca merupakan ritus sakral dan layak dilakukan dengan sepenuh hati. “Jangan meremehkan membaca, seperti menuang air dalam kendi. Apabila tak ada keseriusan, air satu tong tak akan membuat kendi penuh”, ungkapnya dengan senyum tipis mewartakan segenggam nasihat. Lebih lanjut, Pak Boernomo, begitu beliau biasa disapa, menandaskan bahwa tugas utama penulis adalah membaca, dan menghasilkan karya adalah efek dari menelusuri gagasan dari bacaan yang diserap.
“Saya menganggap membaca merupakan aktivitas serius, tak bisa dianggap main-main. Dalam membaca, saya selalu menjelajahi setiap sudut buku untuk mencari kata-kata baru. Saya selalu berusaha mencari di kamus, bila ada kata-kata baru yang tak kumengerti. Karena, kamus tak akan pernah bohong. Bagi saya, membaca merupakan aktifitas utama penulis. Kata-kata yang terserap dalam jiwa akan dilontarkan kembali bersama gagasan baru dan berbentuk tulisan. Kosa kata yang beragam, akan membuat cerita menjadi indah”, tegasnya dengan senyum ramah yang senantiasa mengembang.
Tahun 1986, jejak kepenulisannya dimulai. Dunia sastra membuat hidupnya berubah. Biarpun hanya menempuh pendidikan agama tradisional, Pak Boernomo tak mau kalah dengan kawan seangkatannya, maupun dengan sastrawan lain. ”Akhir dekade 80-an, saya berikrar menekuni dunia tulis. Sebelumnya, saya memang pernah bekerja di rumah teman, membuat sepatu. Akan tetapi, sejak tulisan saya membanjir di media, saya praktis hanya punya satu pekerjaan; menulis!”. Beliau menandaskan bahwa, pekerjaan menulis tidak dapat dilakukan dengan setengah hati, totalitas dan semangat membara sangat dibutuhkan.
”Saya sering dimintai pendapat kawan saya, yang setelah menjadi guru dan diangkat PNS (Pegawai Negeri Sipil) tak bisa lagi menulis. Menurutku, itu adalah kesalahpahaman, menulis membutuhkan komitmen dan seni mengatur waktu menjadi modal wajib”, ujarnya mengenai alokasi waktu penulisan yang efektif. Baginya, penulis wajib mempunyai prioritas waktu dalam menulis, sehingga tak mengganggu aktifitas yang lain. ”Setiap penulis memiliki strategi dan jadwal yang berbeda dalam menuangkan tulisan, itu semua tergantung selera. Akan tetapi, bagi saya pribadi, prioritas utama yaitu waktu senggang ba’da subuh. Saya selalu berusaha mematuhi prinsip yang telah kugariskan”, tambahnya sambil menebar tips bagi penulis muda.
Tentang pahit getirnya berpetualang di dunia tulisan, sastrawan yang memiliki nama asli Ahmad Muhith ini bercerita panjang lebar. ”Sampai saat ini, ada sebagian tulisan yang ditolak media, tetapi saya tetap berusaha gigih dan produktif”. Menurutnya, masa paling getir bagi semua penulis cerpen ketika terjadi kriris kertas tahun 1996. Pada waktu itu, banyak penulis yang frustasi dan mencari ladang pekerjaan lain. ”Krisis kertas yang terjadi seakan menjadi pukulan telak penulis, terutama cerpenis. Karena pada saat kriris kertas mencapai puncaknya, semua pemilik media massa memangkas jumlah halaman koran. Itu semua untuk efisiensi, bahkan koran KOMPAS pernah terbit hanya delapan halaman”. Terangnya sambil menerangkan mengingat masa lalu. Beliau menuturkan, setelah reformasi, dunia tulisan kembali cerah dan banyak penulis muda bermunculan.
”Pada tahun 90-an menjadi penulis sangat menjanjikan secara materi dan emosional. Bayangkan, pada waktu itu, gaji penulis lebih besar dari pada Bupati. Saya sangat menikmati masa-masa itu, mau beli apapun dan ingin pergi kemanapun akan tercukupi”, ceritanya mengenang masa kejayaan cerpenis Indonesia. Beliau menegaskan, sebenarnya penulis itu orang yang kuat, dan dapat bertahan dalam segala kondisi apapun.
Dalam hati, Pak Boernomo lebih menyukai dunia kesunyian. Beliau tak mau terjebak pada konflik ideologi sastra yang sekarang sedang marak. ”Perseteruan antara kelompok Taufiq Ismail dan kelompok Hudan Hidayat, merupakan babak lanjut cerita lama. Dulu juga pernah berlangsung perang ideologi sastra, antara PKI, yang dipimpin Pramoedya dengan kelompok humanis yang dinahkodai Goenawan Mohamad dan kawan seperjuanganya. Manifesto kebudayaan terulang dalam cerita yang berbeda”, komentarnya terkait dengan konflik ideologi sastra yang dewasa ini sedang gencar.
Menurutnya, orang yang menuduh jelek pada orang lain sama jeleknya dengan yang dituduh, seperti orang yang melarang bicara anak kecil ketika khutbah Jum’at berkumandang. ”Saya menganggap, orang yang menyerang kaum penganut ”sastra kelamin”, tulisannya lebih menjijikkan dari orang yang dituduh”.
Di akhir perbincangan, beliau menitipkan nasihat kepada penulis muda agar tetap gigih dan produktif menulis. Mendengar pesannya, saya teringat ucapan Gus Zainal Arifin Thoha (alm), ”Aku menulis maka aku ada”. Ya, menulis membuat nama kita tercatat dalam keabadiaan sejarah. [moenawir].
