Mengingat Sang Legenda dengan Melagukan Leo Kristi
Oleh : Wahyu Arzetha*
Sayup-sayup merdu tadarus masih terdengar dari masjid-masjid seusai jamaah shalat tarawih. Jalanan kota terasa basah karena gerimis yang sempat turun dengan lembut. Dalam perjalananpun sesekali masih diwarnai dengan rintik gerimis yang semakin halus. Tak seberapa banyak lalu lalang kendaraan yang melintas. Mungkin sebagian besar warga melanjutkan ibadah tadarus mereka, atau mungkin mereka lebih memilih berkumpul bersama keluarga di rumah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit akhirnya kami memasuki kompleks perumahan di belakang pertokoan Jember Kudus. Memasuki halaman Padepokan Seni Murni Asih (PaSMA) suasana budaya begitu terasa. Sebuah padepokan yang sengaja dikonsep untuk kegiatan-kegiatan kebudayaan ini menyambut setiap pengunjung yang hadir di sana. Ada sebuah panggung dengan model gazebo berbentuk melingkar dan beratapkan daun rumbai atau mungkin jerami kering berada di tengah-tengah. Sedangkan di sebelah selatan terdapat gazebo beratap lebih rendah untuk beberapa pengunjung atau penonton pertunjukan.
Baru beberapa orang yang tampak hadir ketika kami sampai di sana. Selain Pak Gi (panggilan akrab bapak Sugiharto) selaku tuan rumah dari PaSMA, juga sudah terlihat Jumari HS, Widyo Leksono atau yang sering dipanggil “Babahe”, serta beberapa personil dari Semarang yang akan tampil pada malam itu. Ya, malam itu adalah malam memori bagi pak Gi dan Babahe serta teman-teman seangkatannya untuk mengenang Sang legenda Leo Kristi. Sehingga acara pada malam itu diungkapkan dengan “Lagukan Leo Kristi”. Acara ini diusung oleh Muria Art Forum, sebuah forum komunikasi bagi para pekerja seni untuk kembali meningkatkan kepedulian terhadap dunia seni dan budaya.
Di atas panggung utama seting panggung telah tersusun dengan sangat artistik. Beberapa istrumen telah tersedia. Mulai dari bangku dan kursi-kursi serta perangkat pengeras suara sudah siap. Sedangkan di atas lantainya digelarkan jerami kering, termasuk semua peralatan yang ada juga dibalut dengan jerami. Beberapa instrumen alat juga sudah disiapkan, gitar, biola dan juga dua buah gendang, semuanya turut berhiaskan jerami kering. Hal ini mungkin untuk memperoleh kesan klasik yang ingin ditunjukkan dalam pertunjukan malam itu. Sedangkan di belakang panggung dipasang sebuah layar plastik dengan warna sedikit kusam. Dan di tengah-tengahnya terdapat bendera merah putih terbentang. Tidak ketinggalan satu set lighting juga turut mendukung dalam acara tersebut. Sebuah tata pencahayaan yang turut menambah kesan klasik dari pertunjukkan ini.
Beberapa saat kemudian suasana semakin ramai karena pengunjung semakin banyak yang hadir. Selain menempati gazebo di sebelah kiri panggung, mereka juga banyak yang duduk di depan panggung dengan beralaskan karpet. Dan sekitar pukul 20.30 personil kelompok musik yang tanpa nama ini memasuki panggung dan langsung menyanyikan sebuah lagu. Kemudian setelah itu dipanggillah Babahe untuk naik ke atas panggung. Dan pertunjukanpun dilanjutkan dengan dua lagu berikutnya. Kelompok musik ini tanpa nama, karena memang mereka bergabung hanya untuk mensukseskan pertunjukkan malam itu.
Sesekali gerimis masih turun dengan rinai yang kadang sedikit deras. Sehingga penonton banyak yang pindah tempat untuk berteduh. Meski demikian pertunjukkan tetap berlangsung seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan setelah selesai menyanyikan lagu Nyanyian Pantai, Pak Gi yang menyumbangkan keahliannya dalam bermain gitar dalam mengiringi pertunjukan tersebut menanyakan kenapa penonton berpindah tempat. Ternyata mereka tidak menyadari gerimis yang kembali turun.
Pertunjukkan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Hitam Putih. Sebuah lagu yang menggambarkan tentang keadaan bangsa yang senantiasa dipenuhi dengan kehidupan yang serba hitam dan putih itu menghibur penonton. Itulah keadaan bangsa ini. Dalam pertunjukkan ini menyajikan beberapa lagu dari album-album Leo Kristy, diantaranya album Nyanyian Tanah Merdeka, album Nyanyian Cinta, juga album Biru Emas Bintang Tani.
Bu Murni selaku pembawa acara, kembali meminta kepada penonton untuk memberikan aplouse untuk penampilan yang baru saja diberikan. Sebuah sindiran disampaikan oleh bu Murni, “Sebenernya penonton pada kenal dengan Leo Kristi ndak sih?” sebuah pertanyaan yang disampaikan kepada penonton, karena mereka berasal dari kalangan muda pecinta seni. “Bisa jadi penonton pada belum lahir”. Kembali sindiran bu Murni kepada para penonton.
Pada kesempatan berikutnya tampil Maria Magdalena Boernomo. Beliau membawakan puisi yang cukup panjang. Puisi yang dikatakan sebagai puisi sensitif bagi sebagian kalangan. Karena puisi ini berupa kritik terhadap orang-orang beragama yang terkadang kurang beradab dibandingkan dengan mereka yang tidak beragama (masyarakat samin). Puisi ini berjudul Nasehat Dari Sedulur Sikep.
Gerimis masih sesekali turun ketika Babahe dan kawan-kawan melagukan Salam Dari Desa. Ini adalah salah satu tembang apik yang dibawakan mereka. Ini adalah salah satu lagu yang bercerita tentang perjuangan rakyat desa yang berprofesi sebagai petani. Dan sebelum menyanyikan lagu terakhir yang berjudul Komedi Badut, mereka melantunkan sebuah tembang rancak yang pernah dinyanyikan juga oleh musisi beraliran rock metal Boemerang. Lagu ini berjudul Kereta Laju
Leo Kristi adalah sosok legenda musisi jalanan Indonesia. Hal ini karena musisi kelahiran Surabaya 8 Agustus 1949 lebih sering melakukan konser-konser jalanan. Penyanyi yang satu ini memang lebih suka menjalani hidupnya di dunia musik jalanan. Berbeda dengan rekan-rekan seangkatannya seperti Gombloh (alm) serta Franky Sahilatua yang (akhirnya) memutuskan untuk “mendarat” di satu tempat. Leo telah mengenal musik sejak masih duduk di sekolah dasar. Bahkan ketika itu dia telah aktif menyanyi di gereja.
Sebenarnya acara ini berawal dari kegelisahan Sugiharto yang ingin kembali mendengarkan tembang-tembang Leo Kristi. Yang kemudian ditindak lanjuti dengan bekerja sama dengan Widyo “Babahe” Leksono dan Yoyok yang berasal dari Semarang. Babahe dan Yoyok adalah mantan anggota sanggar seni Paramesti yang telah lama melanglang buana dalam dunia kesenian di Semarang. Menurut pak Gi, dengan acara ini diharapkan dapat mengembalikan citra musik balada di mata masyarakat, utamanya kepada generasi muda.
Pak Gi mengungkapkan keprihatinan tentang adanya dominasi musik-musik punk yang digemari oleh remaja sekarang. “Mestinya mereka juga menambah wawasan tentang musik balada”, harapnya saat mengakhiri wawancara.