Membangun Peradaban Intelektual
Perubahan zaman seolah tak mau tahu bagaimana pola perkembangan pemikiran manusia. Semua serba cepat, kecanggihan teknologi sudah mulai menjalar dalam hidup manusia. Cara berpikirpun telah berubah, bahkan sekarang menjadi serba praktis. Kecanggihan teknologi informasi memang membuat segalanya lebih mudah dan cepat. Sehingga semua ingin menggunakannya. Hampir semua orang saat ini sudah mengenal teknologi informasi, bahkan anak-anak pun sudah tak asing lagi menggunakannya. Televisi dan radio mengawali perkenalan anak dengan teknologi informasi, lebih lanjut lagi komputer dan akses internet yang kian marak. Bahkan hal itu sudah menjadi kebutuhan.
Fenomena tersebut ternyata memang sudah tidak mungkin lagi dihindari. Kebutuhan akan informasi dan mempermudah pekerjaan yang kian kompleks pun dirasakan oleh seluruh pihak yang terkait dengan pembelajaran. Begitu pula di STAIN Kudus. Kampus di kota kretek, yang mayoritas mahasiswanya masih katrok dan budaya membacanya ”kelas jongkok” ini juga mencoba menikmati teknologi tersebut.
“STAIN mendapatkan anugrah yang kebetulan muncul di bulan November 2007 lalu” begitulah keterangan Dr. Masyharuddin M.Ag, Ketua STAIN Kudus saat dimintai keterangan mengenai pemasangan internet di kampus ”Islam Transformatif” ini. Kelebihan dana APBN yang cukup besar ternyata mengalir di kas bendahara STAIN Kudus. Dana itulah yang akhirnya dialokasikan untuk pemasangan internet sistem wi-fi dengan kekuatan 2,4 GHZ. Suatu layanan tanpa kabel yang bisa diakses secara bebas oleh siapapun dan kapanpun.
Tak tanggung-tanggung pemasangan internet tersebut menganggarkan dana tidak sedikit, bahkan mencapai Rp.132.072.000,00 per tahun. Sayangnya, anggaran yang cukup besar tersebut ternyata belum mampu dinikmati oleh seluruh mahasiswa. Pasalnya kemampuan yang dimiliki mahasiswa untuk mengakses masih begitu rendah. hal ini dapat dilihat dari minimnya mahasiswa yang memiliki perangkat yang mampu digunakan untuk mengakses seperti Laptop, I-Pod, atau pun Hand Phone yang memiliki fitur W LAN. Sedangkan pihak birokrasi belum mampu menyiapkan pelayanan khusus untuk mahasiswa. Sehinggga terkesan membuang dana untuk kepentingan yang belum jelas.
Pemasangan internet yang awalnya mendapatkan sambutan yang luar biasa dari mahasiswa, kontan menuai kekecewaan. “Sebenarnya saya ingin menggunakan internet yang ada di STAIN sejak lama tapi malah katanya tidak boleh, padahal saya sama teman-teman sudah mendapat rekomendasi dari dosen kami untuk menggunakan internet yang ada di laboratorium, tapi sampai sana justru kami di usir, lalu internet itu untuk apa dan siapa?” ungkap Erma dengan berapi-api karena kecewa.
Tak hanya mahasiswa semester akhir program diploma II ini saja yang kecewa tapi teman-temannya yang saat itu ikut ke Puskom juga ikut menampakkan wajah kecewa.
“Semua perangkat yang akan digunakan untuk melayani akses internet gratis bagi mahasiswa itu memerlukan dana yang banyak, jadi ya mahasiswa harus sabar. Dana untuk bayarnya saja sudah besar dan itu juga tidak diambil dari mahasiswa, jadi seharusnya mahasiswa mau usaha sendiri.” lanjut Ketua STAIN mengomentari keluhan mahasiswa tersebut. Belum adanya pelayanan khusus untuk mahasiswa memang menjadi problem yang cukup besar. Apalagi solusi alternatif yang dikehendaki oleh banyak pihak dengan memanfaatkan laboratorium komputer ternyata juga tidak mendapat izin dari pihak birokrasi. “Kami tidak bisa mengijinkan mahasiswa untuk mengakses internet di sini (Puskom-red.), karena kami hanya menjalankan tugas dari pihak birokrasi” kata Sutanto yang menjabat sebagai Sekretaris Puskom (Pusat Komputer) STAIN Kudus.
Pemasangan jaringan internet di STAIN Kudus memang menimbulkan dilema. Di satu sisi, teknologi informasi tersebut tidak mungkin ditinggalkan mahasiswa sebagai pihak yang sangat membutuhkan informasi, sedangkan di lain pihak pemasangan internet yang kurang mampu memperhitungkan biaya dan penggunaannya justru hanya akan menjadi sia-sia. Anehnya pihak birokrasi sama sekali tidak memperhitungkan dampak dari penggunaan wi-fi yang akan muncul dikemudian hari. Misalkan saja pemanfaatan dari pihak luar. Menanggapi masalah tersebut, Kahar Usman selaku Pembantu Ketua (PK) I mengatakan, “Ya nggak apa-apa, karena berapapun penggunaannya bayarnya akan tetap sama”.
Kurangnya perhatian pihak birokrasi mengenai efesiensi pemanfaatan dan pembiayaan internet sebenarnya sudah menjadi keresahan tersendiri dari pihak mahasiswa. “Meskipun pembiayaannya bukan dari uang mahasiswa, tapi fasilitas tersebut sebenarnya kan anggaran dari pemerintah untuk kebutuhan pembelajaran. Jadi ya pihak birokrsi harus bertanggung jawab dong!!” ungkap Munir mahasiswa angkatan 2005 ini dengan semangat membela kepentingan mahasiswa.
Keresahan tersebut memang cukup mendapat perhatian dari pihak birokrasi. Rencananya mereka akan membuat ruangan khusus untuk mahasiswa sebanyak delapan unit komputer dan penggunaan password untuk membatasi penggunaan secara bebas. Namun hal itu ternyata masih sebatas teori yang belum tahu kapan realisasinya. “ya doakan saja biar semua cepat terealisasi” ungkap ketua STAIN mengakhiri wawancara. Dan alhamdulillah rencana tersebut sudah terealisasi mulai akhir Oktober lalu, sekarang untuk mahasiswa sudah diberikan fasilitas tempat dan 5 unit komputer khusus untuk mengakses intenet yang ditempatkan di Puskom Lama, walaupun masih jarang dibuka dengan berbagai macam alasan.
Iklim Akademik Yang Kondusif
Catatan bagi Wajah baru STAIN Kudus
Masyarakat memiliki dialektika emansipasi kemanusiaan antar keyakinan, pemikiran, dan sistem kebudayaan dengan proses membangun relasi yang utuh antara geo-sosial-ekonomi-politik- dan cara pandang kemanusiaan yang selalu berubah atau sengaja diubah sesuai dengan perkembangan waktu dan tuntutan hidup. Hari ini teknologi informasi menjadi sebuah keniscayaan dalam segala aspek kehidupan manusia, bahkan merebak pula dalam lembaga pendidikan- sebagai media untuk mentransformasikan nilai-nilai yang memiliki muatan-muatan pendidikan- hal ini tak terlepas pula dengan kampus yang identik dengan warna hijau yang berlokasi di Kudus, bernama STAIN Kudus.
Desakan kebutuhan hidup semakin membuat manusia untuk mencari dan menemu. Ibarat padi, semakin tua semakin berisi, hal Itu pula yang saat ini sedang dialami oleh STAIN Kudus, kampus yang berdiri sejak tahun 1997. Di antara hamparan sawah yang luas tersebut kini telah berdiri kokoh beberapa bangunan infrastruktur yang dirasa akan sangat membantu proses kegiatan belajar mengajar di kampus Islam transformatif tersebut, seperti; gedung rektorat berlantai III, gedung Laboratorium berlantai III, Walk clambing, halaman parkir mobil dan sepeda motor, fasilitas internet gratis yang bisa diakses oleh seluruh civitas akademika, bahkan saat ini sedang dalam proses membangun gedung baru untuk pengadaan 18 lokal sebagai ruang perkuliahan.
“Pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk merombak STAIN Kudus menjadi lebih baik”, begitu kiranya komentar Kahar usman menanggapi pertanyaan dari crew Paradigma tentang pembangunan gedung-gedung baru oleh birokrasi STAIN Kudus. Menurut Puket I ini, ada banyak hal yang menjadi PR (Pekerjaan rumah–red), bagi STAIN Kudus untuk menciptakan iklim akademik yang kondusif. Mulai dari metode pengajaran sampai dengan peningkatan kompetensi dosen, sarana dan prasarana juga tak kalah penting dalam mencetak mahasiswa-mahasiswa yang sesuai dengan visi dan misi yang di usung oleh STAIN Kudus.
Menurut Kahar Usman, bahwa STAIN Kudus sekarang ini sedang dalam posisi berbenah. Kata “Berbenah” disini, dimaksudkan memperbaiki segala tatanan yang ada untuk menjadi lebih baik. Tengok saja, kurikulum pendidikan STAIN yang dirasa sedikit rancu karena ada mata kuliah tertentu yang secara prosedural harusnya diberikan secara bertahap dan runtun, akan tetapi menjadi berlompat-lompatan, contohnya; Metodologi Penelitian Pendidikan Islam diberikan terlebih dahulu sebelum mahasiswa memperoleh mata kuliah Matodologi Penelitian. “Ini yang menjadi batu sandungan bagi kita, sehingga dalam hal ini seluruh civitas akademika harus turut mendukung dalam menentukan keberhasilan dalam program ini”, demikian uraian dosen pengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan tersebut.
Sementara itu, A. Choiron selaku Puket II menjelaskan bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan salah satunya adalah menyediakan sarana dan pra-sarana yang memadai, dan hal itulah yang kini sedang diupayakan oleh birokrasi STAIN Kudus. Ia juga memaparkan tentang rencana STAIN Kudus dalam pembangunan Rusumana (Rumah Susun Mahasiswa Sederhana) berlantai empat dan diperkirakan akan ada sekitar seratus buah kamar yang bisa dihuni oleh mahasiswa. “Konsepnya akan di buat seperti ma’had, sehingga teori dapat diperoleh di kampus, dan perilaku keberagamaan langsung bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari”, begitu papar A. Choiron saat ditemui di sela-sela kegiatan seminar di STAIN Kudus.
Di sisi lain, kemajuan yang terjadi di kampus ini bukan semata-mata hanya sebatas bangunan fisik saja, sebagaimana yang telah disosialisasikan bahwa seluruh civitas akademika STAIN Kudus dapat mengakses fasilitas internet secara gratis. “Selama masih dalam jam kerja, mahasiswa dapat memakai internet di Puskom (Pusat Komputer–red) dengan gratis”, ujar A. Choiron saat ditanya tentang fasilitas internet yang hanya bisa dikonsumsi oleh beberapa kalangan saja. Berkenaan dengan itu pula, ada beberapa pendapat yang berbeda tentang penggunaan fasilatas internet, salah satunya adalah Tiwi, mahasiswi angkatan 2004 yang mengeluh karena tidak bisa ikut menikmati fasilitas internet seperti yang dijanjikan. “Ah, sosialisasinya saja yang berlebihan. Buktinya saya belum bisa mengakses internet di Puskom secara gratis, malah di suruh pulang padahal sudah capek naik turun tangga”, begitu ujar Tiwi dengan kesal.
A. Choiron, yang berdomisili di Pati ini mengakui bahwa pasti akan banyak sekali kendala yang dihadapi STAIN Kudus dalam upaya melaksanakan program tersebut. Misalnya saja dalam pembangunan infrastruktur; terbatasnya halaman parkir sepeda motor untuk mahasiswa di kampus barat dirasakan cukup menggangu, fasilitas internet yang disediakan di kampus timur (Puskom-laboratoium lantai tiga–red) dirasakan terlalu jauh dari aktivitas mahasiswa, sehingga hal ini menjadi perdebatan di kalangan birokrasi dalam upaya penataan tata ruang kampus agar semuanya berjalan sinergis dan efektif. “Ini adalah masalah sentral yang mendasar”, ungkapnya.
Dalam tataran empiris, tutur A. Choiron, fasilitas internet sudah mulai bisa diakses oleh semua kalangan. Terlihat dengan pengadaan internet di masing-masing unit. STAIN Kudus juga tidak segan-segan mengeluarkan anggaran sekitar Rp. 11.000.000.00,- setiap bulannya untuk membayar tagihan fasilitas tersebut. Di samping itu, ia pun memberi penjelasan bahwa para dosen juga sudah ada beberapa yang mulai membeli laptop untuk memaksimalkan proses belajar mengajar. Bahkan workshop untuk dosen-dosen ini telah dilaksanakan, sehingga diharapkan semua civitas akademika STAIN Kudus dapat memanfaatkan fasilitas yang ada, apalagi di masa transisi dari era industri ke era informasi seperti ini
Sulikah, aktivis pergerakan pemuda ini pun sedikit memberikan komentarnya. Bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan di STAIN Kudus tentu ada konsekuensi logis yang harus dilakukan, salah satunya memang dengan menyediakan sarana dan pra sarana yang menunjang terbentuknya iklim akademik yang kondusif dan efektif. Disamping itu, langkah yang juga perlu didorong adalah menciptakan social responsibility, karena harus diakui bahwa birokrasi tidak pada posisi kontrol yang kuat atas kinerja seluruh civitas akademika. Namun birokrasi dengan kewenangan regulasinya dapat mendorong kalangan dosen dan pegawai untuk bisa memaksimalkan kinerjanya, sehingga mutu pendidikan di STAIN Kudus dapat terangkat. [p] Widya