3. Artikel Utama

PLTN Muria dalam Konstalasi Global

Oleh : M.Fatchul Munif al-Faqir

 

Dalam jagad kehidupan di berbagai belahan dunia, PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) siapapun mengakui bahwa energi tersebut merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, apalagi disaat sumber daya alam migas semakin habis karena sudah banyak digunakan. Mengingat pentingnya energi listrik dalam sebuah tatanan kehidupan masyarakat, tentu kita akan berfikir instan tanpa peduli resiko yang akan terjadi, itulah salah satu ciri bangsa yang bermental kerdil yang tidak perduli dengan nasib generasi seterusnya.

Sejak pertengahan Juli 2007, masyarakat Kudus dan Jepara digemparkan dengan isu proyek PLTN Muria, proyek pembangunan ini disinyalir akan menghabiskan dana miliyaran rupiah yang dibiayai oleh negara dengan pemegang proyek investor dari korea dan beberapa negara lain. Adapun peralatan yang akan digunakan sebagai tabung pun merupakan bahan bekas yang sudah di daur-ulang sehingga diklaim akan aman digunakan untuk waktu satu abad lebih. Begitu pula dengan kondisi semenanjung muria yang sudah dianggap aman karena tidak adanya patahan bumi yang bisa mengakibatkan gempa bumi dan tsunami.

Gelombang penolakan terhadap proyek tersebut pun mulai mengalir deras dari para masyarakat mulai dari pengusaha, petani, tokoh masyarakat, mahasiswa, buruh dan organisasi kemasyarakat lainnya. Gelombang penolakan terhadap proyek tersebut didasari atas pertimbangan bahwa, bila PLTN di semenanjung Muria tetap dilakukan dikhawatirkan akan mengakibatkan persoalan baru dalam tatanan masyarakat khususnya wilayah Kudus dan Jepara bahkan ke beberapa daerah lainnya yang berada di wilayah jarak tempuh 300-500 kilometer. Berbagai persoalan tersebut misalnya, perusahaan di daerah akan gulung tikar karena radiasi PLTN akan meresap ke dalam setiap bahan makanan dan minuman serta peralatan rumah tangga lainnya seperti hasil–hasil keterampilan lainnya dan bila dikonsumsi akan mengakibatkan cacat bagi setiap bayi yang akan dilahirkan.

Akibatnya perusahaan di Jepara dan sekitarnya yang kita tahu sebagai penghasil ukir, makanan khas kudus, pabrik rokok dan tekstil yang mempekerjakan jutaan buruh akan terancam bangkrut karena hasil produksinya tidak akan digunakan oleh masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri karena khawatir dengan radiasi nuklir yang bisa berakibat fatal untuk keberlangsungan kehidupan penerusnya. Persoalan ini akan menambah beban negara karena jutaan buruh terancam kehilangan pekerjaan yang bisa menimbulkan kesenjangan sosial, ekonomi, politik, bahkan bisa merubah tatanan kebudayaan masyarakat santun menjadi masyarakat yang anarkis karena sulitnya untuk bertahan hidup.

Persoalan itu merupakan masalah kecil yang kini menjadi gejolak ditengah perdebatan panjang pro dan kontra poryek PLTN semenanjung Muria. Kekhawatiran masyarakat tersebut tentu bukanlah tanpa alasan yang mungkin hanya subyektifitas saja, tetapi telah terjadi beberapa kecelakaan baik yang berskala ringan maupun berat. Bencana yang relatif ringan terjadi di TMI (Three Mile Island) AS yakni operator tidak menyadari bahwa mereka melakukan kesalahan prosedur yang mengakibatkan reaktor terlalu panas dan akhirnya meleleh, walaupun tidak menelan korban tetapi dapat dimaknai bahwa dalam pengoperasian PLTN perlu adanya kedisiplinan agar tidak berakibat fatal.

Di negara Jepang yang notabene tersohor dengan kedisiplinan dan bertekhnologi tinggi ternyata PLTN yang dikelola juga pada bulan kemarin mengalami kebocoran, karena gempa dan akhirnya di tutup, apalagi Indonesia!. Belum lagi, dengan kejadian di Chernobyl Ukraina puluhan ribu jiwa dinyatakan terkena radiasi yang cukup berat.

Semenanjung muria memang sangat strategis, baik secara geo-politik, ekonomi dan warisan budaya. Pertama bahwa posisi tersebut terletak di laut jawa yang menjadi jalur perjalanan laut baik nasional maupun internasional, dalam hal ini secara politik sangat mungkin menjadi incaran ”misionaris globalisasi” dalam rangka menancapkan kekuatannya di negeri ini, karena mau atau tidak mau bila tempat tersebut menjadi proyek PLTN maka pihak asing yang menjadi investor akan lebih leluasa untuk melakukan ekspansi kepentingan baik menyelidiki kekayaan alam dan lain sebagainya.

Kedua, secara ekonomi semenanjung muria merupakan daerah yang kaya baik darat maupun laut karena wilayah tersebut selama belum dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Jutaan flora dan fauna yang seharusnya dilindungi sebagai penyeimbang pemanasan global yang akhir-akhir ini menjadi persoalan penting untuk menyelamatkan dunia dari kepunahan.

Kepentingan Global

Sewindu yang lalu Timor-Timur terlepas dari lingkaran NKRI menjadi Negara Timor Leste, setahun yang lalu Pulau Sipadan dan Ligitan di Kalimantan menjadi milik malaysia dan saat ini yang menjadi incaran sangat menonjol adalah papua, terlepasnya pulau-pulau tersebut tentu tidak mungkin terlepas dari tangan-tangan kekuasaan asing yang hanya ingin mengeruk kekayaan alam kita dengan alasan berbagai macam proyek pembangunan. Proyek pembangunan itu berkisar dalam bidang sumberdaya manusia, energi dan lain sebagainya yang dapat membuat bangsa ini terjepit yang pada akhirnya harus menyerahkan kekayaan alam pada pemodal asing.

Dalam persoalan ini penulis mumpunyai anggapan bahwa bukan hal yang mustahil apabila pada akhirnya semenanjung muria akan mengalami nasib yang sama seperti daerah lain di Indonesia yang kini telah menjadi milik asing. Negeri ini mempunyai kekayaan alam yang melimpah yang berharga bagi masa depan peradaban negeri ini.

 

*Penulis adalah Ketua Umum PC PMII Kudus, Alumni STAIN Kudus.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: