10. Opini

 

Kajian Subaltern, Refleksi Terhadap Realitas

Oleh : M.Mustaqim*

 


Ketika “Paradigma” menganjurkan untuk menulis gagasan yang reflektif dan imajinatif, saya merasa gembira dan bersemangat. Gembira karena, selama ini beberapa kajian yang dilakukan di STAIN, baik oleh mahasiswa maupun dosen terkesan mengikuti mainstream. Sehingga terjadi kelatahan, terhadap wacana dominan yang menjadi tren pada waktu tertentu. Cara pandang reflektif-imaginatif, setidaknya akan memberi semangat baru untuk melakukan kajian yang mungkin tidak sekedar latah terhadap mainstream.

Saya mengandaikan, bahwa tulisan yang reflektif itu merupakan pemaknaan yang lahir dari pengalaman yang sudah lalu. Yang ada kemudian adalah asumsi kritik dan dialektika budaya, tradisi, pengalaman yang terbangun dari ruang waktu yang telah lalu. Sedangkan imaginatif mengandaikan sebuah pola “coba-coba” untuk mencari kajian pemikian baru, atau setidaknya berbeda dari mainstream yang sedang booming di masyarakat. Kajian subaltern, di sini cukup untuk menjadi pengantar terhadap kegelisahan kita bersama, yang selama ini disuguhi dan dipaksa oleh wacana dan diskursus dominan.

Realitas, Pengalaman dan Ekspresi

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita selalu berhadapan dengan sesuatu yang kita sebut realitas. Realitas merupahan pertautan ruang waktu yang senantiasa mengitari manusia. Di sini, realitas merupakan keniscayaan bagi manusia, selama manusia masih berdimensi ruang dan waktu. Realitas bersifat umum dan general, artinya setiap manusia berpeluang untuk besingggungan dengan realitas yang boleh jadi sama. Namun realitas tidaklah universal, artinya pada kenyataan yang sama, akan menghasilkan ruang batin dan mentalitas yang berbeda. Karena manusia juga terjerat pada kondisi ruang waktu tertentu, yang membentuk budaya yang berbeda.

Realitas, ketika bersinggungan dengan diri subyektif manusia akan menghasilkan yang disebut pengalaman. Sampai sini, pada kenyataan yang sama, ketika dialami oleh orang yang berbeda, maka boleh jadi akan menghasilkan pengalaman yang berbeda. Dua orang mahasiswa, ketika mengikuti kuliah yang sama, pada waktu yang sama, diampu oleh dosen yang sama, bahkan duduknya selalu berdampingan, akan menghasilkan pengalaman yang berbeda. Karena, realitas yang sama, umum dan general, ketika dialami seseorang, akan dicerap melalui disposisi mental, kesadaran dan fisiknya menjadi pengalaman diri. Maka akan terbangun jarak atau perbedaan antara realitas dan pengalaman.

Ketika pengalaman seseorang diekspresikan, artinya di tuangkan dalam bentuk atau tingkah laku terindra (terlihat, terdengar, terbau, terasa, teraba), maka hasil subyektif ekspresi tersebut akan terlahir menjadi sebuah realita. Ekspresi di sini dapat dipahami sebagai pengejawantahan, perwujudan, manifestasi, materialisasi, penubuhan dari pengalaman terhadap realitas. Dan sudah barang tentu ekspresi membutuhkan media, sebagai alat manifestasinya. Media dalam hal ini bisa berbentuk, tulisan, lisan, seni, sastra dan lainnya, tergantung dari subyek yang mengekspresikan.

Nah, sebenarnya untuk mampu menghasilkan sebuah obyek kajian, tidak harus sesuatu yang wah, heboh, booming dan sebagainya. Segala pengalaman kita terhadap realitas, mampu menjadi sebuah obyek kajian yang baik. Persolannya, sejauh mana kita mengekspresikan pengalaman tersebut, lewat media kajian bahkan tulisan. Inilah yang saya maksud dengan upaya pembangunan kajian “subaltern”, yakni sebuah kajian dari sesuatu yang sering kali dianggap tidak menarik, sepele, kecil, tidak human interesting, tidak trend, melawan mainstream dan semacamnya. Karena selama ini kita sering kali latah terhadap sebuah wacana, yang terkadang wacana mainstream tersebut merupakan “mainan” sebuah kekuasaan. Sehingga kajian yang dilakukan sering kali termentahkan oleh relasi kuasa (power relation) yang bermain.

Selama perpuluh-puluh tahun, wacana yang termanifestasikan melalui media, pelajaran dan bahkan mata kuliah yang ada, selalu membawa misi hegemoni kekuasaan. Wajar kalau kajian yang kita lakukan tidak mampu membangun pemikiran baru, karena wacana yang hari ini kita kaji, sebenarnya sudah (selesai) dikaji oleh orang lain (barat). Di sinilah upaya untuk melakukana kajian subaltern menjadi sebuah alternatif.

Cultural Studies, Tawaran Paradigma

Istilah cultural studies sudah muncul pada beberapa dasawarsa yang lalu. Namun di STAIN Kudus dan mungkin hampir di dunia akademik jarang menyebut terma ini. Setidaknya bagi saya, selama hampir lima tahun kuliah, tidak pernah diajarkan dan mendapatkan istilah tersebut—mungkin ini karena kebodohan dan ke-kuper-an saya–. Cultural studies awalnya merupakan kegelisaan para penggagasnya ketika menghadapi kondisi ilmu pengetahuan di era modern yang terkotak-kotak dan saling melontarkan klaim kebenaran (truth claim), meskipun lambat laun dimengerti juga bahwa kebenaran yang di hasilkan dari ilmu pengetahuan selalu bersifat parsial. Sehingga cultural studies hadir sebagai counter pengetahuan, dengan menempuh strategi inter dan multidisipliner. Cultural studies memasukkan kontribusi teori, maupun metode dari berbagai disiplin ilmu yang dianggap strategis untuk mengedepankan realitas kehidupan umat manusia maupun representasinya (Lono, 2006).

Hal terpenting dari cultural studies adalah pemahamannya terhadap dunia sehari-hari, sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya yang perlu dicermati. Hal-hal yang biasa dilihat, dilakukan, didengar, dirasakan, diperbincangkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan wilayah garapan cultural studies. Sehingga budaya bukanlah yang adilihur, besar dan mainstream saja. Pendekatan yang memahami budaya sebagai kegiatan sehari-hari didasari dari pemahaman tentang kontruksi sosial atas realita (the social contruction of reality). Cara pandang ini mengandaikan bahwa realitas dipahami dan diabaikan, dihidupkan dan dimatikan, diperbincangkan dan dilupakan, dilestarikan dan dirusak, di manfaatkan dan dihindari berdasarkan sistem kontruksi yang terbangun dalam masyarakat. Di sinilah cultural studies berperan dalam rangka membongkar dan memaparkan unsur penyusun konstruk dan cara kerjanya. Supaya masyarakat mampu melibatkan diri dan berperan aktif dalam pembangunan konstruksi tersebut.

Cultural studies juga memandang realitas sosial selau dimainkan oleh relasi kuasa tak berimbang di antara pelaku budaya. Relasi kuasa ini terwujud melalui kuasa ekonomi, politik, keagamaan, ideologi, pendidikan. Sehingga perhatian cultural studies tertuju pada pelaku budaya yang terpinggirkan (marginalized), terlemahkan (mustadh’afin), yang suaranya tak pernah didengar, kehadirannya diabaikan, bahkan keberadaanya ditiadakan (wujuduhu ka adamihi).

Konstruksi sosial dipahami juga sebagai proses hegemoni “penjinakkan“ terhadap masyarakat. Sehingga dekonstruksi sosial menjadi pilihan gerakan yang harus dilakukan. Dalam hal ini, cultural studies mengagendakan pemikiran, strategi dan bahkan resistensi (perlawanan) terhadap praktik hegemoni tersebut. Terobosan pemikiran baru yang merupakan counter mainstream akan mengawali sebuah upaya “penelanjangan” sebuah konstruksi sosial yang hegemonik. Hingga pada akhirnya tandingan kajian dan pemikiran yang baru, yang itu di mulai dari yang yang sepele yang ada dalam kehidupan sehari- hari mampu menjadi tawaran pemikiran terhadap wacana mainstream.

Kajian Subaltern, Mengapa Tidak?

Platform majalah “Paradigma” yang reflektif-imaginatif ini diharapkan mampu mengawali kajian subaltern yang saya tawarkan. Sebagai bagian dari kaum akademik, sudah barang tentu perlu melakukan pencerahan dan penyegaran pemikiran. Jika selama ini kita dikonstruk pada wacana mainstrem yang “berkepentingan”, maka tidak salah jika kemudian kita melakukan pergeseran dan tandingan wacana. Kajian subaltern dalam konteks STAIN Kudus, akan mampu menjadi warna dan nuansa baru dalam dunia akademik dan wacana. Ini bisa kita mulai dari konsen kajian terhadap fenomena-fenomena remeh yang ada di sekitar kita. Pengalaman sebagai mahasiswa, akan menambah perbendaharaan ekspresi kita dalam rangka pembangunan kajian subaltern. Untuk membangun sesuatu yang besar, maka harus dimulai dari sesuatu yang kecil, dari diri kita masing-masing. Komunitas masa depan, merupakan hasil imajinasi kita saat ini. Sekarang saatnya kita membangun imagined community (masyarakat terbayangkan)—meminjam istilah Ben Anderson—dari refleksi kita terhadap realitas saat ini.

*Penulis adalah Mantan Presiden Mahasiswa BEM STAIN Kudus, aktif di Forum Kajian Subaltern (FOKSA) Kudus.

 

 

 

STAIN Kudus; Di Ambang Stagnasi Peradaban

Oleh Sutomo*

 

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang terdidik. Para anggotanya bukanlah “beo-beo” yang tinggal menurut perintah, tetapi masyarakat yang cerdas, berdiri sendiri, dan mempunyai pendirian sendiri, para anggotanya tidak tergantung kepada orang lain tetapi percaya diri sebagai suatu bangsa yang keras dan bukan bangsa yang lembek. (H.A.R. Tilaar).

 

Bahan Refleksi

Pendakian menuju kemajuan lembaga perguruan tinggi tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, namun perjuangan yang melelahkan dan dentuman energi dikeluarkan, lahir maupun batin semuanya terkuras demi sebuah kemajuan organisasi dan lembaga. Berbagai persoalan yang menyeruak pasti dapat dilalui dengan optimisme. Mulai dari “pertengkaran batin”, percaturan politik, percaturan sistem dan lain sebagainya.

Hal-hal itulah yang dilakukan para punggawa STAIN Kudus mulai dari dulu, yang mulanya IAIN Walisongo Cabang Semarang yang berada di Kudus, kemudian pada beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1997 IAIN Walisongo yang ada di Kudus berubah menjadi STAIN Kudus. Para punggawanya merasa berbesar hati sebab sudah independen dan tidak terikat dengan lembaga lain. Sikap independen, diharapkan dapat menjadi pelecut lembaga, sehingga manajemen bisa berjalan dengan baik tanpa yang nihil dari intervensi.

Dalam rekaman sejarah, dengan pergulatan panjang selama lebih dari satu dekade. STAIN Kudus pun percaya diri karena strategis dari letak geografis. Hal itulah yang menjadi penunjang kemajuan STAIN Kudus selama ini, bila di tinjau dari kaca mata masyarakat pantura, biaya kuliah yang terjangkau menjadi entry point, sehingga di setiap tahunnya ribuan mahasiswa baru menyerbu kampus hijau ini untuk menimba ilmu.

Gelombang kemajuan peradaban STAIN Kudus semakin lama semakin nyata bila diteropong dari sudut pandang kuantitas mahasiswa. Tetapi soal kualitas, tunggu dulu!. Setiap tahun ajaran baru, mahasiswa semakin bertambah, dan gedung-gedung perkuliahan yang baru dibangun sebagai benteng keilmuan serta gedung perkantoran menjulang. Semua itu, menjadi ciri khas kemajuan bila dilihat dari sudut pandang fisik, tentu hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa baru yang masih buta dengan seluk-beluk dunia kampus.

Lambat laun, pada medio tahun 2005, kala itu masih kepemimpinannya Prof. Muslim A. Kadir, gejolak ritmis di tubuh STAIN Kudus mulai terbaca. Dari seputar persoalan penerimaan dosen baru yang harus memakai pra-syarat pungutan liar yang nominalnya lumayan besar, pengunduran diri Pembantu Ketua (PK) II, Drs. Danusiri, M.Ag. serta rentetan persoalan lain yang membuat pahit bibir.

Gejolak pada saat itu mengantarkan Presiden Mahasiswa 2005, Sahabat Mustaqim dan pimpinan redaksi Bulletin Detik, M. Nasrurrohman dipanggil Kejaksaan Negeri Kudus karena ditengarai menampilkan hasil investigasi dan informasi rahasia. Namun pada akhirnya, keduanya hanya dimintai klarifikasi semata mengenai sengkarut persoalan yang membelit birokrasi.

Persoalan-persoalan yang membuncah pada tahun itu satu persatu dapat diselesaikan dengan baik. Kasus yang timbul, tidak menimbulkan konflik yang signifikan, baik di lingkup opini mahasiswa maupun dosen. Sehingga persoalan dan gejolak yang ada pada kala itu perlahan reda. Proses perkuliahan kembali berlangsung, tanpa jejak pergulatan kepentingan politik praktis.

Menatap Masa Depan

Visi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus yang menyiapkan peserta didik menjadi teknolog ilmu Islam yang unggul secara intelektual, kaya dalam amal serta anggun dalam moral kebijakan (Radar Kudus, 25/2005). Jargon yang fasih digunakan Prof. Muslim A. Kadir (Ketua STAIN Kudus Kala itu), diharapkan bisa menarik pada khalayak umum masuk di lembaga yang pernah dipimpinnya. Ibarat menggelar dagangan di tengah menjamurnya Universitas atau Sekolah Tinggi lain yang ada di Indonesia, terlebih yang ada di Kudus. Ini menjadi tantangan berat bagi para ”pendekar” STAIN Kudus ”tempo doeloe”.

Sejalan dengan visi di atas, yang belum juga di rasakan oleh mahasiswa, baik yang sudah lulus maupun yang baru menikmati masa kuliah. Menurut beberapa alumni, ternyata yang paling penting adalah bukan visi atau misi yang bagus akan tetapi lulus langsung dapat pekerjaan sesuai dengan yang diimpikan, ketika pertama masuk kuliah. Bagi mahasiswa yang masih bergulat dengan dunia intelektual, diharapkan kuliah lancar sesuai kompetensi dan hasrat belajarnya.

Masa demi masa berlalu, era kepemimpiunan Prof. Musim A. Kadir pun usai, kemudian di gantikan kampiun baru, Dr. masyharuddin, M. Ag. Pergantian pemimpin kampus ini, tepat pada akhir bulan pebruari 2005. Dengan adanya peralihan kepemimpinan STAIN Kudus diharapkan ada perubahan yang signifikan, dan alhamdulillah sampai pada saat ini fasilitas bagi mahasiwa begitu melimpah. Selain pembangunan gedung mewah, fasilitas internet gratis juga tersedia, namun fasilitas gratis ini baru sebagian mahasiswa yang bisa menikmati. Fasilitas internet gratis hanya bertebaran di sebagian kecil kantor organisasi kemahasiswaan, seperti BEM, DPM, UKM LPM Paradigma, UKM Menwa. Organisasi kampus yang lain, belum bisa mencicipi nikmatnya berselancar di dunia maya!. Dalam hati ini terucap, semoga tahun berikutnya semua mahasiswa bisa menikmati internet on-line tanpa batasan biaya.

Membangun peradaban kampus tidak hanya menumpuk fasilitas dan infrastruktur, yang harus diperhatikan adalah orientasi belajar mahasiwa. Sebagian besar mahasiswa membawa bekal niatan teguh, kuliah sebagai gerbang pembuka pekerjaan. Tentu, tak semudah itu, kerja keras dan skill potensial harus digenggam. Hal ini juga menjadi tantangan bagi birokrat kampus, untuk mencari link perusahan yang memberikan peluang pekerjaan. Namun sebelum hal itu di lakukan ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Pertama, orientasi pembelajaran harus diperjelas, dengan dialog terbuka untuk mencari benang merah atas beragam polemik yang ada, serta mencari solusi alternatif yang menghantarkan pada win-win solution. Kedua, Mencari visi dan masterplan pembangunan yang jelas. Ketiga, memperbaiki sistem perkuliahan.

Hal yang menarik meletup, ketika membincangkan tentang visi di era kepemimpinan Prof. Muslim A. Kadir dengan masa sekarang, di bawah tampuk kekuasaan Dr. Masyharudin, M. Ag. Jargon sekarang yang didengungkan adalah pemberdayaan Islam Transformatif, ini sungguh sangat berbeda karena mentransformatifkan Islam ke khalayak umum adalah sebuah tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan. Semoga kabar yang terbetik ini, tak hanya isapan jempol saja, sebab semangat berlipat muncul di tengah kepemimpinan baru. Ke depan, yang perlu menjadi perhatian bersama adalah mengenai pangsa kerja beberapa tahun kemudian, lembaga apapun tidak akan bisa maju tanpa mempunyai kerangka konsep yang jelas, diharapkan STAIN Kudus jangan sampai mengalami kebekuan (jumud). Akan tetapi menapaki jalan terjal ke depan yang lebih baik dengan meminggirkan politik fitnah, strategi menghujat, dan pencitraan negatif yang lain. Semoga ”politik maaf” menjadi bingkai kepemimpinan, dan terhindar dari ”stroke politik” yang parah. Dan STAIN Kudus pun tak lagi menjadi kampus marginal di pinggiran lahan pertanian. Aih, kampus mewah, pinggir sawah!.

* Penulis adalah Mahasiswa Tarbiyah STAIN Kudus Semester Akhir, Alumni MA. Qudsiyyah Kudus ’03, dan Sekarang Koordinator Kajian dan Pers PMII Cabang Kudus

Politik untuk Rakyat atau Rakyat untuk Politik ?

Oleh: Muhammad Junaidi*

Bertambahnya umur kemerdekaan Indonesia tidak langsung berarti bertambah pula kedewasaan dari para pememipin di negeri ini. Pejabat di negeri sering lupa bertindak, berucap dan memutuskan setiap kebijakan-kebijakan baru, tanpa menggunakan mata hati. Banyak dari calon pemimpin kita yang selalu menggaungkan nurani sebelum mereka duduk pada sebuah kursi kekuasaan atau jabatan akan tetapi menindas nuraninya sendiri ketika sudah mendapatkan semua tujuan yang diidam-idamkan.

Ini bukan kegilaan mereka, akan tetapi menurut saya hanyalah hukum alam dan alamlah yang akan menjawab pemimpin-pemimpin yang seperti itu. Tindakan mereka pada nantinya akan dibalas dengan peringatan. Seringnya kebijakan yang tidak diamini dengan semua tujuan yang ikhlas untuk menjalankannya, pada akhirnya akan bermuara pada kekejian-kekejian yang diekspresikan dengan kebijakan.

Rakyatlah yang akan menanggung semuanya. Seperti halnya dalam pemilu, rakyat akan menjadi serba salah kalau tidak ikut dalam pemilihan. Pada intinya yang menjadi kekhawatiran bagi mereka, pemilihan itu pada nantinya malah akan menjadi racun yang siap mereka telan, karena pastinya yang terjadi nanti orang-orang yang siap dipilih adalah yang akan menghantarkan rakyat kepada imbalan demokrasi yang memilukan bagi mereka yaitu kesengsaraan. Penggusuran, penindasan dan penganiayaan merupakan dampak yang akan diterima setelah pemilu.

Wal hasil, tidak ada jalan lain kecuali ikut nyoblos dalam pemilu agar dikatakan memihak demokrasi. Akan tetapi dalam ikut serta pemilihan umum rakyat sekarang juga punya kegiatan sendiri yaitu ”menagih” uang lelah pada setiap calon yang mau menang. Semakin besar uang dari salah seorang calon semakin besar pula kemungkinan untuk dicoblos dan menang. Padahal dalam teori ekonomi semakin besar dana yang dikeluarkan oleh seorang semakin besar pula keuntungan yang akan dicapainya. Prinsip ekonomi ini secara otomatis juga akan berlaku pada calon yang akan terpilih dengan menggunakan strategi pemenangan dengan menyebarkan uang. Kinerja wakil rakyat pun nihil dari pelayanan publik dan hasrat mengukuhkan good governance.

Akhirnya sampailah pada titik kejenuhan akut, politik bukan untuk rakyat akan tetapi rakyatlah sebagai korban politik, artinya rakyat hanya dijadikan kepentingan politik. Banyak dari masyarakat yang meluapkan kejenuhannya dalam even-even demokrasi sesuai dengan pemahaman mereka. Demokrasi disini bukan gabungan dari kata demos dan cratos akan tetapi demokrasi mereka artikan dari kata demo dan aksi.

Hal tersebutlah yang telah menjadi ”penghibur” bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Kalau selama ini mereka disibukkan dengan hiruk pikuk kendaraan yang ada di alun-alun kota mereka memberikan nuansa baru dengan menunjukkan sebuah teater demontrasi yang lebih akan mewujudkan keadilan bagi rakyat.

Inilah sebenarnya wisata demokrasi itu. Wisata demokrasi ini menjadi hiburan gratis bagi bangsa ini. Siapapun boleh melakukannya mulai dari rakyat, artis sampai pejabat sekalipun boleh melaksanakan demontrasi. Yang pastinya hal ini kalau dilakukan oleh para pejabat kalau mereka tidak punya malu dan siap-siap untuk kepanasan.

Wisata demontrasi walaupun sudah dilakukan dengan kerja keras belum tentu membuahkan hasil yang diharapkan. Sampailah pada titik puncak kesabaran mereka, mereka akan membuat pesta demontrasi dengan pertunjukkan treatrikal yang mereka sebut dengan ”anarkhisme”.

Sebenarnya banyak harapan yang perlu di cita-citakan bangsa, tetapi kita sendiri kurang konsisten dengan cita-cita kita sehingga Tuhan berkehendak lain. Bencana alam, bencana demokrasi adalah kehendak Tuhan karena ulah manusia yang tidak konsisten lagi terhadap cita-cita mereka. Sehingga untuk kepentingan kita yang tidak terlaksana kita harus menyalahkan diri kita sendiri.

Sudah saatnyalah kita berfikir bersama-sama untuk lebih menonjolkan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi kita masing-masing. Hal tersebutlah konsep yang akan mendekatkan kita pada suatu tujuan untuk membangun bangsa ini secara lebih baik dan bermartabat sekarang dan masa-masa anak cucu kita nanti.

*Penulis adalah aktifis KAMMI Cabang Kudus dan Mahasiswa STAIN Kudus.

 

 

 

 

 

 

 

1 Komentar

  1. azzuhriecenter berkata,

    Oktober 20, 2008 pada 7:49 am

    aku dulu menulis di paradigma Edisi 3/Tahun III Maret 2002 dengan judul : ” Islamic Cyber Communication : Sebuah Wacana Persatuan Umat” semoga ideku tentang islam rahmatn lil alamin bisa benar2 terwujud pada masa2 yang akn datang.jadikan dunia maya ini sebuah harapan baru tentang keterkikisan paham yang sering menjadi jurang untuk kita berkomunikasi.tetap jaya PARADIGMA,tetap membangun STAIN KUDUS,meski yang dibangun hanya gedung melulu….hehe.


Tulis sebuah Komentar

Anda haruse Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.