Menjadi ”Lebih” Dewasa
Menjadi sempurna memang butuh waktu yang panjang, proses yang berkelok dan benturan bertubi. Menjadi dewasa, tidak hanya dengan meninggalkan egoisme, tetapi dengan mendekap kemerdekaan pikiran. Metafomorfosa, terus berusaha untuk menjadi, pantang menyerah hanyalah ihwal menuju gerbang pencerahan.
Tapi, tak, tak ada yang selalu sempurna, yang ada hanyalah mendekati sempurna. Kupu-kupu yang melewati proses panjang untuk menjadi indah bukanlah kesempurnaan, hanya berusaha mendekati kesempurnaan. Manusia dengan karya dan peradaban agung, tak ubahnya makhluk yang bergulat dengan kesempurnaan, tapi tak kan pernah mendapatnya. Perasaan sempurna hanya akan menjadikan diri ini ”takabbur” dan melayang tinggi, lupa dengan jejak kaki di bumi.
Yang menjadi obsesi kami, bukanlah kesempurnaan yang sakral. Yang kami impikan hanyalah kedewasaan berfikir, kejernihan refleksi dan penjelajahan imajinasi yang kokoh. Kajian reflektif yang kami sajikan di hadapan pembaca, hanyalah tonggak hidupnya suasana diskusi yang dinamis di kampus.
Setelah sebelumnya bergelut dengan kajian positivistik yang membebaskan nalar, mengundang hasrat membaca dan membuat kita mencari ”arti”. Edisi 12 kali ini, menghamparkan kenikmatan menelusuri jejak suara hati rakyat Muria, yang gelisah dengan rencana pembangunan PLTN di Lemah Abang, Balong Jepara. Dalam rentang waktu beberapa tahun terakhir, ”genderang perang” melawan pembangunan PLTN Muria ditabuh warga. Ribuan warga mengekspresikan gelisah dengan dentum demonstrasi. LSM, mahasiswa dan Organisasi Masyarakat (Ormas) bergerilya menyatukan kekuatan. Gelombang demonstrasi datang berdebur menghantam kebijakan pemerintah. Entah, episode akhir akan memerankan cerita apa, tapi yang pasti, keringat dan semangat telah dikorbankan di tengah jejak drama pembangunan PLTN Muria.
Selain itu, predikat kampus tekhnologi yang sedang dikejar STAIN Kudus, coba kami sajikan dengan hidangaan menu lain yang tak kalah nikmat. Program internetisasi kampus hijau, dengan beragam kebijakan lain, pembangunan kampus, revitalisasi laboratorium dan sederet info hangat lain yang menjadi perbincangan mahasiswa.
Dan, yang menarik, jalan-jalan melengkapi informasi dunia luar, tak hanya berupa kuliner, tapi juga penelusuran jejak peradaban sang tokoh. Sam Po Kong, ikon peradaban Kong Hu Cu di Jawa, telah berhasil kami potret dalam satu bingkai tulisan. Rubrik budaya yang kami hidangkan juga mengalami pembenahan berarti, mengingat kajian budaya mendapat antusiasme berlebih. Akan tetapi, betapapun, Paradigma, masih dalam proses menjadi, ”paradigma” is still in the making, dan terus berusaha mencari kelamin yang sesungguhnya!.
Redaksi