Menghargai Islam Dalam Perbedaan
Oleh Muh. Khamdan *
Judul Buku: Islamku, Islam Anda, Islam Kita,Agama Masyarakat Negara Demokrasi
Penulis: Abdurrahman Wahid
Penerbit: The Wahid Institute
Cetakan: I, Agustus 2006
Tebal: XXXVi +412
“Tuhan tidak perlu dibela”, karena manusia yang sebenarnya membutuhkan pembelaan manakala menerima ancaman dan ketertindasan dalam berbagai bidang, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Dengan demikian, aspek penting dalam pemikiran adalah membela orang-orang yang tertindas, karena Tuhan tidak mungkin ditindas. Inilah kunci pemikiran dalam buku Gusdur pasca-kelengserannya.
Gus Dur adalah seorang intelektual muslim yang mendunia, namun berasal dari kultur tradisi yang kuat. Pandangannya tentang berbagai pesoalan, selalu dinilai dengan universalisme Islam. Gus Dur memaknai hal tersebut dengan perspektif penolakannya terhadap formalisasi agama, ideologisasi, atau syari‘atisasi Islam. Penolakan demikian karena term tesebut, justru akan mengabaikan pluralitas masyarakat yang berakhir pada menguatnya tindakan diskriminasi dan penindasan dalam kelas-kelas sosial. Ini terlihat dalam teks “Islam: Ideologis ataukah Kultural?” (h.42-62).
Gus Dur juga menolak wacana negara Islam atau menjadikan Islam sebagai dasar negara. Sikap ini dilandasi dengan pandangan bahwa Islam sebagai jalan hidup tidak memiliki konsep jelas tentang negara. Pandangan Gus Dur dipertegas dalam artikelnya di buku ini “Negara Islam, Adakah Konsepnya?” (h.81). Pertama, Islam tidak memiliki pandangan jelas tentang pergantian pemimpin, karena masing-masing dari Khulafaur Rasyidin memiliki karakteristik berbeda. Abu Bakar dipilih melalui sumpah setia (baiat) dari perwakilan suku. Sebelum beliau meninggal, menyatakan untuk mengangkat Umar Bin Khattab. Intinya Umar menjabat karena penunjukan pengganti seperti presiden menunjuk wakilnya sebagai pengganti. Setelah Umar memimpin sekian lama dan berakhir usianya, beliau mengamanatkan untuk membentuk dewan perwakilan yang terdiri dari sahabat-sahabat mulia. Akhirnya, Utsman Bin Affan dipilih oleh tujuh orang anggota dewan tersebut. Untuk selanjutnya, pergolakan muncul di masa pengangkatan Ali sebagai khalifah (h.82). Dan, Alasan kedua yang dipaparkan Gus Dur untuk menolak konsepsi negara Islam adalah ketidakjelasan ukuran negara yang diidealisasikan oleh Islam. Apakah model negara mendunia, atau negara bangsa, atau hanya negara kota.
Menurut M. Syafii Anwar dalam pengantarnya berpendapat bahwa dari pandangan di atas, Gus Dur setidaknya mengikuti tipologi berfikir substantif-inklusif dalam menguraikan gagasan-gagasan politik Islam. Pemikiran ini ditandai dengan keyakinan bahwa al-Quran adalah kitab yang benar tentang aspek moral untuk kehidupan, bukan detail pembahasan obyek permasalahan kehidupan. Artinya, Islam memuat ajaran moral untuk menegakkan keadilan, kebebasan, kesetaraan, demokrasi, tetapi tidak memberikan panduan moral intuk mendirikan negara. Kedua, pemikirannya selalu berpijak pada persepsi bahwa Nabi Muhammad diutus bukan untuk membentuk negara, melainkan mengajarkan nilai-nilai universal, yaitu pada prinsip keadilan, perdamaian, dan persatuan sesama manusia.
Pemikiran tersebut akan berhadapan dengan corak pemikiran legal-eksklusif yang berpandangan bahwa Islam bukan sekedar agama, tetapi juga sebuah sistem hukum yang lengkap, yang mengklasifikasikan konsep Islam dengan 3D; din, daulah, dunya (agama, negara, dunia). Implikasinya, muncul paradigma untuk memformulasikan Islam dari tingkat negara sampai pada individu dalam bentuk konstitusi, semacam Undang-Undang Pornografi dan Pornoaksi. Akhirnya, langkah ini akan disusul dengan memperkuat identitas dan ideologinya dengan model ritual simbolik, bahkan cenderung pada model pemaksaan. Pada aspek kekerasan inilah Gus Dur tanpa memandang korban manapun, akan berada di garis terdepan memberikan pembelaan kendati terbaring sakit.
Buku yang disunting oleh Suaedy, Rumadi, Gamal Ferdhi, dan Agus Maftuh Abegebriel dari berbagai artikel Gus Dur di media massa ini, setidaknya menjadi cermin pengembaraan intelektual Gus Dur dari masa ke masa. Hal demikian juga diakui pengantar buku, Syafii Anwar (h.viii). “Islamku” yang dijadikan tajuk awal dari buku ini merupakan penggambaran tersendiri tentang pengalaman spiritual yang dialami Gus Dur selama ini. Dari pola radikal ikhwanul muslimin yang diikutinya sampai di Jombang Jawa Timur, tertarik nasionalisme Arab di Mesir dan Irak, sampai berlabuh pada ekletisrme yang bersifat kosmopolitan.
Namun pengalaman yang didapatkan oleh seorang Gus Dur tidak ingin dipaksakan untuk ditiru orang lain, karena beliau mengakui bahwa masing-masing individu memiliki pengalaman dan refleksi tersendiri, dan harus dihargai. Untuk itulah muncul istilah “Islam Anda”. Dan, perpaduan “Islamku, Islam Anda” yang memiliki cara pandang berbeda sekaligus standar kebenaran yang berbeda, menjadikan Gus Dur ingin merumuskan “Islam Kita”, yaitu Islam yang tidak saling memaksakan penafsiran kebenarannya kepada orang lain atau komunitas selainnya.
Buku ini terdiri dari tujuh bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang Islam dalam diskursus ideologi, kutural, dan gerakan. Sejumlah gagasan yang menolak konsepsi negara islam, formalisasi syariat dalam konstitusi negara, sampai pada pertemuan agama sebagai ideologi, dituangkan Gus Dur dalam bab ini, yang terangkai dari delapan belas artikel seri dan terpisah.
Pada bagian kedua, terangkum dalam topik Islam, negara, dan kepemimpinan umat. Bahasa dominan dalam bab ini lebih menitik beratkan pada dimensi moral dogma normatif Islam dalam sistem kehidupan manusia. Satu titik sentral adalah penekanan pada aspek keadilan. Apa yang dikemukakan di bagian tesebut, semakin diperjelas dalam bagian selanjutnya, yaitu tentang Islam, keadilan, dan hak asasi manusia.
Sejumlah gagasan tetang relasi Islam dan ekonomi kerakyatan termasuk aspek pendidikan dan masalah-masalah sosial budaya, dibahas dalam bagian yag beruntun pada bagian empat dan lima. Dari sini pula, Gus Dur memberikan komentar tentang terorisma yang berlangsung di Indonesia. Gus Dur memberikan kritik terhadap terorisme berkenaan dengan pendangkalan terhadap dogma normatif agama Islam, terutama berkaitan dengan dalil “besikap keras terhadap orang kafir bersikap lembut terhadap sesama muslim“(Q.S, al-Fath :29) sebagai tanda muslim yang baik. Padahal, kekerasan individual apapun dilarang Tuhan, selain ketika muslim diusir dari wilayahnya.(h.300). ini sesungguhnya prinsip keislaman Gus Dur, menolak semua jenis kekerasaan itu tanpa pandang asal apapun.
Dengan pola pemikiran tersebut, bagian akhir buku ini menyodorkan gagasan Gus Dur tentang Islam dan masalah global dunia yang mengakhiri refleksi intelektualitas pemikiran Gus Dur yang mendunia, meski berasal dari kaum bersarung, yakni tradisional NU. Dan ini menjadi point bagaimana membangun model keberagamaan yang toleran dalam perbedaan.
* Resensator adalah Pimpinan Umum LPM Paradigma
Barat Juga (Pernah) Miskin
Munawir Aziz*
Kemiskinan Global (Kegagalan Model Ekonomi Neoliberalisme),
Jeremy Seabrook,
Resist Book,
September 2006.
Kemiskinan sebenarnya bukan hanya label bagi ketimpangan social, tetapi juga sebuah gejala kebudayaan. Kemiskinan turut menjadi bagian dari elemen kebudayaan global. Oleh karena itu muncul stigma bahwa, jika suatu negara meniru cara yang telah dijalankan Barat, atau mengadopsi pola Barat, negara tersebut akan menjadi negara kaya, makmur dan sejahtera. Karena itu, beberapa negara berkembang sedang menyiapkan dokumen-dokumen strategi untuk pengurangan kemiskinan, sebagai syarat untuk mengakses bantuan yang longgar dan pengurangan utang.
Menurut pendapat Jeremy Seabrook, penulis buku ini, anggapan itu salah besar. Sebab, kemiskinan merupakan salah satu fenomena global yang tidak hanya dialami oleh negara-negara yang notabene miskin tetapi juga dialami oleh negara-negara kaya. Seperti AS dan negara-negara Eropa lainnya.
Pada mulaya, kita menduga bahwa AS dan Inggris adalah sebuah negara yang tidak dilanda kemiskinan dan pengangguran. Karena kaum miskin di sana hampir tidak pernah dimunculkan di media massa, baik media cetak maupun elektronik. Ibaratnya, Negara-negara barat adalah Negara “surga” yang menjadi tempat bermukim orang-orang sejahtera dan bahagia.
Tapi, di negara kaya orang miskin tak terlihat, AS dan Eropa misalnya, telah menjalankan trik pelenyapan atas orang miskin. Orang miskin di sana dikurung dalam statistik, hingga mereka meledak dalam kejahatan yang mengerikan, kerusuhan, gangguan rasial, polisi menyerbu rumah-rumah pedagang obat bius, atau holigan sepak bola. Orang miskin di sana bukanlah bagian dari masyarakat arus utamanya yang makmur, sibuk dan riang.
Dalam buku setebal 166 halaman ini, dihidangkan berbagai fenomena, dari kemiskinan, pengangguran, kejahatan, kriminalitas, hingga upah yang sangat rendah terhadap orang miskin. Masalah ini terjadi di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang. Melalui buku ini, Jeremy menegaskan betapa klaim yang berada dalam media dan opini public tentang barat tidaklah sepenuhnya benar.
Menurut Jeremy Seabrook, ketidaktampakan kaum miskin di Barat disebabkan mereka memiliki strategi, di antaranya adalah menyeret kaum miskin ke dalam penjara. Seorang peneliti, Barbara Ehrenreich yang pernah tinggal berbulan-bulan di Amerika, mengungkap sejumlah fenomena masyarakat miskin di sana. Selain bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah perawatan, pemasaran, dan pencucian, ia juga melakukan telaah atas ketidaktampakan orang miskin. Ia menandaskan bahwa selain tidak mendapat perhatian serius dalam hal pekerjaan, keberadaan orang-orang miskin ternyata sudah dianggap tidak ada dalam realitas kehidupan masyarakat di sana.
Kaum miskin di Barat merupakan jiwa mati demokrasi: nonpartisan, putus sekolah, tak terdaftar, tak tercantum di kartu pemilih dan daftar pemerintah. Selain itu, mereka dianggap musuh pasar, mereka tidak dihitung dan tidak dapat menghitung. Karena tidak mendapatkan perlindungan dan keamanan dari pemerintah, akhirnya ratusan ribu kaum miskin di negara-negara kaya, baik laki-laki maupun perempuan melarikan diri dari negaranya.
Terdapat pertanyaan dalam buku ini, mengapa ada banyak orang miskin di sebuah negara yang lebih makmur ketimbang sebelumnya? Menurut Jeremy Seabrook, pasti ada sesuatu yang keliru dengan pemikiran konvensional mengenai kekayaan dan kemiskinan.
Melalui bukunya, Jeremy Seabrook menyadarkan kita bahwa untuk melawan kemiskinan bukanlah suatu ‘jaring pengaman’ dari pelayanan sosial model negara kesejahteraan, melainkan jaringan darah daging, kekerabatan, dan keluarga (halaman 46).
Jaringan itu merupakan perlindungan mereka satu-satunya, rumah, makanan, dan perawatan. Dengan demikian, kaum miskin dapat membesarkan suatu generasi baru yang bebas dari kelaparan, kehausan, dan panggangan tarik matahari, guyuran hujan, atau dingin.
Buku ini, setidaknya membuka mata batin kita. Bahwa kemiskinan bukan hanya menjadi bagian “masalah” Negara dunia ketiga. Tetapi juga (tetap) menjadi problematika di negara-negara maju.
*Resensator adalah Penikmat sastra dan pecinta buku (bukan kutu buku).
Sastra Marjinal dan Pemarjinalan Sastra
Oleh M. Nasrurrohman*
Judul Buku: The Regala 204 B
Penulis: Nera Andiyanti dkk.
Cetakan I: Agustus 2006
Penerbit: Gapuraja Media Kudus
Tebal Buku: 116 Halaman
Dia menarik tanganku dengan paksa menuju ke ranjang. Tapi ku coba untuk menepisnya sekuat tenaga. Tiba-tiba laki-laki itu berbalik dan menyambar pistol yang tergeletak di atas meja. Lengkahnya kembali mendekat padaku. Sementara moncong pistol itu tepat mengarah di keningku. Setapak demi setapak langkah itu kian mendekat. Tak terbayangkan di mana letak jantungku. Yang kurasakan detaknya tengah berpacu dengan cepatnya. Terlalu cepat untuk aku hitung perdetiknya. Persendianku terasa lolos. Batinku menjerit. Menyebut Asma Allah.(hal. 31)
Sepenggal cerita di atas memberi sedikit sentuhan pada pembaca. Di sini, Nera telah menggambarkan seluruh cerita yang ada dalam buku ini. Bagaimana kehidupan orang-orang marjinal. Sastra “Persembahan untuk kaum marjinal,” melihat titel tersebut, memang layak untuk dipersembahkan, ini tak lepas dengan isi buku ini yang bercerita tentang kaum marjinal. Kaum ini sering dipandang sebagai sekelompok orang yang selalu menerima belas kasihan orang lain atau mereka yang tinggal dipinggiran kota. Tapi di sini, dalam Kumpulan Cerpen (kumcer) The Regala 204 B, editor menuliskan kaum marginal bukan sekelompok orang yang selalu menerima belas kasihan orang lain. Sesuai dengan cerpen yang di tulis, justru orang marjinal di sini, mereka yang gigih berjuang dalam genggaman “penguasa”.
Buku ini pun tidak sekedar bercerita tentang anak jalanan atupun (maaf) pengemis. Tapi lebih dari itu, seperti dalam cerpen Nera Andiyanti, Nela sebagai tokoh utama dalam cerpen The Regala 204 B bukan gadis dari kaum marginal, hanya saja ia teraniaya. Dan masih banyak cerita dalam buku kumcer ini. Dari sebelas cerita yang di muat, kebanyakan bercerita tantang kehidupan yang mengharukan.
“Saat ini aku terbangun dari tidur yang bersisian dengan emak. Suara-suara aneh mengusik telingaku. Kulihat emak bersama Kimong. Di atas alas kardus. Aku pun pura-pura tidur pulas kendati emak bekali-kali menoleh ke arahku di tengah-tengah desah anehnya dan gerak liar Kimong.”(hal. 45). Coba cermati penggalan cerita ini, ia lebih menggambarkan pada kehidupan jalanan yang penuh dengan kecamuk kekejaman dunia, pergaulan bebas dan dekadensi moral.
Melihat dua contoh cerpen di atas, ada dua tema besar yang di usung, pertama, Marjinal Karena kekejaman kaum kapitalis, kedua, Marjinal karena keadaan dunia yang telah menjadikan manusia harus mengadongkan tangan pada juragan.
* * *
Ada sisi menarik dari kumcer ini, sudut pandang penulis mempunyai banyak kesamaan, terutama dalam tema yang diangkat. Antara fiktif dan realis memang sulit dibedakan, jika sudah masuk dalam sebuah tulisan sastra. Terlepas dari fiktif dan non fiktif, kumcer ini telah mengatakan kepada dunia, bahwa inilah kehidupan saat ini yang terjadi.
Setelah membaca semuanya, ada sedikit keganjalan. Apakah cerita “Di Sebuah Persimpangan” itu termasuk cerita tentang orang-orang marjinal? Atau memaksa untuk memarjinalkan? Jika itu yang terjadi, berarti ini cerpen yang termarjinalkan. Selain itu, kenapa harus The Regala yang menjadi titel dari buku ini, padahal Catatan Harian Gembel Cilik dan Kurir, bagi saya lebih menarik dan ceritanya lebih dekat dengan orang-orang marjinal. Selian bercerita kemarjinalan, buku ini adalah bagian dari marjinalisasi editor, meski ini menjadi otoritas editor dalam menerbitkannya dan memilih titel yang menarik.
Di sisi lain, buku ini patut mendapat sambutan positif, karena ini akan menjadi catatan penting bagi kaum muda penerus, sebagai penulis sastra marjinal – yang tak termarjinalkan. Dan satu catatan lagi, buku ini akan lebih baik lagi jika terbitan kedua hadir dengan tampilan yang lebih menghebohkan dengan cerita yang benar-benar tentang kaum marginal. Karena kaum marginal mempunyai banyak sisi menarik untuk menjadi catatan sastra. Semoga tidak sampai di sini.
*Resensator adalah anggota Kelompok Belajar Sastra E-Ja Kudus.


aboeazka berkata,
Agustus 29, 2007 pada 3:54 am
menanggapi apa yang di tulis guru bangsa dalam bukunya, saya ko sedikit gerah dengan penggunaan perspektif penolakannya terhadap formalisasi agama, ideologisasi, atau syari‘atisasi Islam. Penolakan demikian karena term tesebut, justru akan mengabaikan pluralitas masyarakat yang berakhir pada menguatnya tindakan diskriminasi dan penindasan dalam kelas-kelas sosial. Ini terlihat dalam teks “Islam: Ideologis ataukah Kultural?” (h.42-62).menurut saya pernyataan beliau terlalu apriori tampa meliahat landasan dan fakta sejarah yang ada. GUS Dur lebih melihat Islam serta idiologinya dari kacamata pribadinya, dan bukan dari sisi keniscayaan qur’ani.hal ini dapat terlihat dari sikap beliau yang sedikit aroganm dan cenderung alerhi akut terhadap syariat Islam, padahal seorang yang berjiwa Islam dan bertauhid akan menyatakan kerinduannya untuk mendirikan syariat islam yang berlandaskan kepada sisi idiologi quraniyah.
Siasah di dalam islam secara mutlak dipraktekan dengan baik oleh para pendahulu kita, tanpa adanya tedeng aling-aling, coba buka sejarah Umar bin abdul aziz, atau yang lainnya, terlepas dari sistematika pemilihan yang mereka gunakan, cobalah berkaca kepada kebenaran, bukankah islam tidak dapat dipandang dalam satu dimensi saja.
Gus Dur mungkin akan tau dan Faham, apa itu Maslahatul mursalah, apa itu usulul fiqhiyah dan beberapa ilmu laionnya.
disisi lain justru saya lebih menilai Prespektif islam mengenai pluralisme, gender, keaman dan tahqiqul hukm lebih memadai dan mumpuni dari poada lainnya.bila belum puas silahkan baca buku Siasah Islamiyah, yang banyak ditulis oleh ulam2 besar seperti ibnu taimiyah dan lain-lainnya.Allah tidaklah bodoh dan tidaklah Allah lupa untuk menciptakan dan menurunkan Syariat ini dengan sebaik-baiknya, termasuk mengatur Siasah islam, Allah akan senantiasa memberikan contoh yang baik bagi hambanya melalui rentetan sejarah yang ada, bukankah Allah telah menjelaskan bahwa ” Kalian adalah sebaik-baiknya umat( Zaman) yang ada dimuka bumi ini, lantas sistematiak yang ada pada zaman kholifah pertama dan ke dua semuanya itu hanya merupakan sistematika yang menggunakan MAslahatul mursalah, bukankah dekrit yang anda keluarkan dimasa anda menjadi presiden merupakan kesalahan dan kebodohan yang paling nyata di sejarah negara indonesia ini, apalagi anda merupakan “Seorang yang dinyatakan P-I-N-T-A-R ” pantaskah itu dilakukan ???????? Allah lebih tau dari semuannya