KACA MATA

Tak Pernah Menyerah

Tuk Melangkah

Potret Kehidupan Para Pencari Nafkah

 

Memeras keringat, membanting tulang, demi sesuap nasi dan seteguk air. Mereka tak pernah lelah mengayunkan kaki, mulai terbitnya matahari, hingga petang menyelimuti.

Terik matahari, kepulan asap motor, bising kendaraan dan keringat yang bercucuran adalah sahabatnya dalam mempertahankan hidup, mereka seolah tak pernah menghiraukan apa yang mereka rasakan. Kaki terus mengayun, di atas aspal panas yang menyengat, kaki telanjang itu hanya tahu bahwa mereka akan mendapat upah.

Rasa lelah kemana hendak merebahkan tubuh, hanya emperan toko atau jok becak sebagai terminal untuk melepaskannya. Begitu ada yang memanggil, mereka langsung bergegas, bahwa itu adalah kesempatan, dan kesempatan adalah uang. Sebagaimana yang ditulis Sholihin Abu Izzudin, dalam bukunya ”Zero to Hero”, bahwa ada tiga hal yang tidak akan pernah datang kembali, kata yang telah diucapkan, waktu yang telah lewat dan momentum yang diabaikan.

Bukan hanya para petani maupun tukang becak, para anak jalanan inipun turut mengadu nasib di bawah terik yang memanggang. Masa depan ada pada tangan mereka, begitu ia menyerah, maka detak kehidupanpun cukup sampai di sini. Itulah narasi kehidupan, semua serba tantangan, rintangan dan pantangan. Tak ada nasib yang berpihak, kecuali hanya mereka yang beruntung.

Semuanya adalah karya foto yang tak ternilai harganya, kesempatan emas memang tak pernah lepas dari mata para pengincar lubang kamera ini. Di mana ada kesempatan dan moment yang menarik, sebuah kamera digital berukuran 3,1 pixel ini siap membidik di setiap gerakan. Seorang kamerawan juga tak pernah puas dengan hasil cepretannya, makanya, memotert dan memotret selalu dilakukan berulang-ulang. Trial and error adalah konsep utama dalam belajar memainkan kamera.

100_6072-k.jpg

 

2-100_4598-n.jpg

6-100_7445-n.jpg

1-100_4585-n.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tulis sebuah Komentar

Anda haruse Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.