Dari Artefak ke Gobalisasi
Suatu saat manusia akan kembali pada kehidupan tidak beradab zaman batu, di mana pola kehidupan berubah menjadi liar. Peradaban berjalan kencang menyeret manusia pada kemampuan luar biasa “memodifikasi diri” sesuai kehendak yang diingini. Kondisi yang buruk berubah menjadi hal yang dipuja setelah disempurnakan dengan teknologi. Apa yang terjadi menuntut manusia untuk menganut eksistensi baru yang diakui kelas dominan. Itulah globalisasi dalam ruang yang terbatas.
Sekarang, tidak ada sebuah kondisi yang mampu menyekat ruang demi ruang dalam realitas dominan. Batas dan dinding hanya sekadar urusan administrasi, yang tidak mampu mencegah proses interaksi manusia di setiap belahan bumi. Di dalam kondisi demikian, manusia seakan melebur menjadi satu dalam komunitas, batas, sampai narasi-narasi kemanusiaan. Di dunia seperti ini, citra yang terbentuk adalah perlombaan untuk memperoleh informasi secepat dan seakurat mungkin, sebagai sesuatu yang menentukan posisi manusia dalam kerangka pengaruh terhadap sesama.
Dalam diri manusia-manusia zaman tersebut, terbentuk sebuah konstruksi pemahaman bahwa yang diakui secara dominan adalah sebuah model pembenaran realitas. Ironisnya, konstruksi dominan justru muncul dari peran penguasa informasi yang mengembangkan kerangka pengaruh dalam prinsipnya, yaitu Barat. Jika satu slot pemberitaan menayangkan bahwa kecantikan harus dengan tubuh putih, mulus, langsing, dan (lebih tragis) berpakaian terbuka, pada akhirnya slot pemberitaan tersebut akan mengkonstruksi image diri manusia secara otomatis. Begitupun konstruksi laki-laki tampan, harus memiliki unsur putih, tinggi, dan perut berotot yang dipertontonkan dengan pakaian terbuka. Inilah masyarakat di zaman yang mengedepankan citra dan terhegemoni oleh dominan, yang tradisionalis bahkan kembali ke gaya primitif.
Selembar Daun, Selembar Uang
Hingga saat ini, perubahan tetap terjadi dalam kehidupan pada dua wajah yang senantiasa berlawanan. Sebuah keniscayaan adalah pola pergantian malam dengan siang, kemarau dengan penghujan, tua dengan muda, sampai pada pola dominan kebudayaan manusia. Jean Baudrillard dalam bukunya “Simulation” membagi dalam tiga appearance (penampakan) dunia, yaitu periode klasik, reproduksi realitas, dan kesimpangsiuran identitas budaya. Di sini manusia memodifikasi diri dengan berbagai bentuk citra dominan berdasarkan alam.
Berkaitan dengan perubahan dalam penampakan dunia versi Jean Baudrillard, tahap pertama adalah periode klasik, suatu zaman yang ditandai dengan tradisi keprimitifan, sampai pada zaman pencerahan revolusi industri. Manusia dalam zaman ini dianggap paling menentukan dalam tatanan ekosistem, terutama berkaitan dengan alam. Alam masih dipandang bernilai manakala memberikan implikasi terhadap kepentingan manusia. Imbasnya, alam hanya sekadar menjadi objek, alat, dan sarana pencapaian nafsu manusia, kendati hanya mengandalkan daun, kayu, kulit binatang, dan segala hal yang masih bersifat alami dalam sistem barter.
Kendati paradigma berfikir semacam itu terkesan hanya mengutamakan manusia, namun dianggap memiliki etika lingkungan walaupun dangkal dan sempit (shallow environmental ethics). Hal ini diakibatkan adanya nilai instrumental yang berkembang, yaitu melestarikan alam karena menjadi hal yang vital bagi kelangsungan hidup manusia.
Lihat saja ketika manusia-manusia purba membuka sela-sela hutan untuk menjadi ladang dengan peralatan sederhana batu dan besi yang dicor. Alampun berubah pada tatanan “habis manis sepah dibuang, habis dikikis ditinggal lapang”. Satu persatu kerusakan muncul di permukaan bumi. Rasa iba, kasihan, sampai pada perasaan bersalah tanpa aspek rasionalitas akhirnya berkembang di tengah komunitas manusia-manusia purba terhadap lingkungan. Pada klimaks menyusahkan, akhirnya semangat berfikir rasional, logis, sekaligus praktis, menemukan momentumnya dalam gelombang revolusi industri.
Sebagai fenomena baru, revolusi industri memprediksi penanda-penanda baru dalam jagad alam berfikir manusia, yaitu munculnya “produksi bebas” dalam segala aspek realitas manusia. Ada penanda bebas fashion, penanda bebas agama, penanda bebas interaksi sosial, penanda bebas budaya, penanda bebas ekonomi, dan penanda bebas produksi, yang menyulut universalitas nilai-nilai kehidupan. Varian ini selanjutnya akan muncul dalam bentuk peradaban globalisasi yang berjalan dengan ekspansi ekonomi.
Sulit memang memahami dimensi globalisasi, karena globalisasi sendiri belum memiliki definisi yang mapan, kecuali hanya working devinition (definisi kerja). Pernyataan ini setidaknya diakui beberapa kalangan masyarakat dalam beragam pemahaman berbeda.
“Globalisasi adalah proses yang dimunculkan oleh suatu aktivitas yang melampaui batas-batas negara dan bangsa. Ini terjadi misalnya, lagu-lagu Britney Spears, atau Westlife yang berbahasa inggris atau lirik lagu Hadad Alwi yang berbahasa Arab adalah cerminan globalisasi, karena telah melampaui batas negara dan bangsa peredarannya”. Tutur Fathurrahman, Mahasiswa semester tujuh ini.
Lain halnya dengan Hadi, “Globalisasi adalah proses pertemuan antar budaya (cultural encounter-red) yang memiliki hubungan saling keterpengaruhan”.
“Pertemuan budaya merupakan wujud keterbukaan (exposure) fihak yang satu dengan fihak yang lain, namun memiliki hubungan timbal balik yang berimbang. Hal itu seperti yang pernah diterangkan majalah ini (Paradigma-red) tentang Menara Kudus yang menghadapi tiga unsur budaya, Islam, Hindu, Cina.” Tambah pria gemuk jurusan Tarbiyah tersebut.
Kalau menyarikan dari muatan berbagai deskripsi yang mengemuka, maka pembicaraan tentang globalisasi akan menyuguhkan berbagai pikiran penampakan, gaya, dan lifestyle, yang timbul dari kenyataan makin meningkatnya pertemuan budaya. Dari berbagai pilihan itu, globalisasi seringkali berkenaan dengan persebaran gagasan dan ideologi (ideas and ideologis) secara global. Penekanan itupun lebih diidentikkan pada bidang ekonomi dan perdagangan dengan ikon global IMF, Word Bank, WTO sebagai komando kendali bidang tersebut secara global.
Globalisasi yang mendominasi fase ini semakin mempercepat proses pengalihan nilai-nilai (transfer of values) yang berdampak pada reorientasi nilai dan gaya hidup (lifestyle) masyarakat. Dalam kaitan ini, proses pengalihan nilai-nilai cenderung terjadi searah (one way) antara komunitas yang mengirim terhadap komunitas penerima. Menghadapi proses ini, nilai dan gaya hidup cenderung dikontrol oleh kode-kode dan penanda bangsa Barat. Kemungkinan perkembangan selanjutnya adalah dialaminya keterasingan budaya oleh generasi penerus.
Erat kaitannya dengan realitas tersebut adalah terbentuknya “common image of reality” oleh globalisasi gagasan dan wawasan mengenai berbagai gejala, yang berkonsekuensi membentuk common attitude terhadap gejala dan peristiwa tertentu tanpa disadari. Ini berarti bahwa pada saat nanti, masyarakat hanya sekedar boneka yang terhipnotiskan oleh mode dan tampilan dominan, atau realitas rekaan dalam imajinasi futuristik, “hiper-realitas”.
Pada fase ketiga, adalah fenomena yang menampakkan suatu perubahan total dalam persimpangsiuran identitas yang bersifat periodik. Pembajakan tanda (sign) dalam penyalahgunaannya, justru diberikan peluang yang besar untuk menciptakan simulasi budaya yang baru. Ada semacam pembajakan tanda dan identitas budaya feminine (wanita) yang dipraktikkan oleh kebanyakan kaum pria. Pria pada fase tumpang tindih ini memakai anting, gelang, dan assesoris feminine, untuk terus mencari sensasi diri dengan sebuah kepuasan semu berwujud manipulasi citra dan realitas rekaan dari Tuhan. Begitupun wanita pada fase “imbas” globalisasi ini memakai celana jeans ala cowboy, mengikuti body painting, berpakaian terbuka dada, perut, sampai paha, bermain sepak bola bahkan balap mobil, yang kesemuanya sebagai pembajakan identitas budaya maskulinitas.
Langkah demi langkah manusia memasuki dunia lain, yang sangat berbeda dari pada realitas yang ada itu sendiri. Manusia hidup dengan manipulasi diri dan tidak pernah puas dengan sesuatu yang didapat sebagai sebuah kemapanan. Dan, kehidupan yang didapatkan pada fase demikian adalah realitas yang serba dimungkinkan terjadi, atau realitas kartun. Tindik telinga dan bagian tubuh yang lain sebagai tindakan yang sadis pada awalnya, pada fase ini menjadi trend lintas generasi sekaligus kelas sosial serta kelamin. Pakaian compang-camping penuh sobekan yang tergambar sebagai simbol kelas bawah, pada saat ini menjadi trend yang laris melalui simulasi citra identitas. Hal-hal yang dahulu merupakan bagian dari suatu kebudayaan minoritas dan oposisi, kini menjelma menjadi kekuatan utama suatu kebudayaan yang berkembang sebagai dominan.
Pastinya dapat ditebak, manusia akan kehilangan identitas kebudayaannya karena memanipulasi diri sendiri. Di sini juga tidak ada kata “be your self” karena manusia lebih percaya pada citra identitas masa, daripada percaya pada wajahnya sendiri. Dalam ketidaksadaran rasio, manusia diajak kembali ke dunia masa lalu yang penuh batas dalam manipulasi makna tanpa batas. Fase inilah gelombang penggugatan terhadap Tuhan marak, atas nama gaya esensial dalam komunikasi budaya. [Khamdan/Paradigma]
